Thursday, April 23

SEBUT SAJA INI CONFESSION, ATAU CLARIFICATION???

Well, sebut saja ini sebagai sebuah “Confession”. Sebuah Confession dari VELIATI dan masih membicarakan mengenai peristiwa yang pada hari senin memberikan satu lagi pembelajaran untukku. Dan Aku masih tidak tahu sampai kapan akan mengingat peristiwa itu dan jujur, Aku belum punya rencana untuk melupakannya cepat-cepat.

Sudah 4 hari berlalu sejak hari Senin, 20 April 2009. Apapun yang sudah terjadi dalam hidupku, pasti Allah menghendaki Aku menjadi sosok manusia yang lebih baik. Belajarlah bijaksana menghadapi ini, sepertinya itu pelajaran yang Aku dapatkan sejauh ini. Belajarlah bijaksana dan mengesampingkan egomu, Vel.

Kemarin, tepatnya Rabu, 22 April 2009 Aku masih membahas masalah ini dengan Umi dan Mba Lala. Mereka bilang, “Eyi harus meneladani sikap Pak Harto yang masih tetap bisa tersenyum walaupun di dalam hati sangat marah”. Aku menghargai masukan dari mereka, dan menoba untuk berlaku seperti Pak Harto, walaupun terlalu marah, Aku harus tetap tersenyum dan menganggap tidak pernah terjadi apa-apa. Sekalipun di dalam hati ini penuh perasaan dendam dan ingin membalaskan Dendam Nyi Velly ini.

Well, masih membahas tentang sikap Pak Harto. Pak Harto masih bisa tersenyum walau terjadi pergolakan di hatinya, Aku pun harus begitu. Beside, masih ada satu lagi yang bisa Aku contoh dari beliau. Beliau memperlihatkan senyum kepada para musuhnya, tapi dia mencari cara terdahsyat agar membuat para musuhnya tidak bisa lagi berkutik. Dengan kata lain, Aku harus mencari Kartu As mereka yang akan membuat mereka mengaku kalah terhadapku.

Sebenarnya bukan pengakuan Kalah – Menang yang Aku butuhkan saat ini. Yang Aku butuhkan adalah kejujuran dari mereka untuk mengakui perbuatan buruk mereka terhadapku di depan kedua orang tuanya dan juga orang-orang satu angkatan kami di sekolah. Walau bagaimanapun, image tetaplah penting.

Ini daftar pembelaan Veliati terhadap sebutan-sebutan mereka terhadapku (Layaknya Klarifikasi):

AKU NGGAK KEMAYU
Kalau aku disebut kemayu, terus mereka disebut apa? aku bahkan tidak pernah membawa peralatan seperti yang mereka bawa ke sekolah (e.g: Sisir, kaca, pond’s_sorry nyebut merek). Coba saja geledah tasku, kalau sampai menemukan benda-benda perempuan seperti tersebut diatas, Aku akan mengacungi jempol. (Aku bahkan jarang sekali membawa tisu, perbandingannya adalah 10:365).

Satu tempat yang mereka kunjungi pertama kali setelah sampai di Mall adalah kamar mandi supaya mereka bisa ngaca. Sok artis! Aku, tempat pertaman yang aku tuju setelah dari parkiran Mall adalah tempat main atau food court. Mana yang lebih kemayu?

AKU NGGAK SOMBONG
Kalau Aku disebut Sombong, terus mereka apa? mereka yang hobi pamer barang-barang kepunyaan, bawa barang yang tidak ada sangkut pautnya dengan KBM di sekolah, cerita tentang barang-barang baru punya mereka, pamer dengan barang milik mereka yang sebenarnya harganya biasa saja tapi menyebutkannya dengan hiperbola seakan harganya hanya dapat dibeli oleh lawan bicaranya jika mereka menjual diri, menjaga jarak dengan orang-orang biasa (I mean, orang-orang di sekolah yang sebenarnyasangat enak untuk dijadikan teman menurutku, tapi mereka menjauhinya karena mereka tidak terlalu terkenal).

AKU TIDAK SUKA MEMBAUR DENGAN ORANG YANG “BUSUK”, BUKANNYA AKU TIDAK PUNYA TEMAN
Kalau di dunia ini Aku hanya mungkin berteman dengan mereka, aku lebih memilih sendiri. Aku sudah cukup sadar dengan keadaan mereka secara sikap dan sifat yang sangat bertolak belakang denganku. Bisa dihitung mungkin berapa orang di kelas yang jadi kawan dekatku, sebut saja Twinsie, Hana, Khalaliyah, Ephi, dan Miss Baws. Lebih baik aku selalu bermain dengan mereka daripada harus bergabung dengan dengan manusia busuk itu. Well, sudah cukup aku dibangkrutkan karena pernah mengikuti gaya hidup mereka yang yah terlalu royal untuk ukuran ekonomi seperti mereka. Lebih baik memiliki teman sedikit yang memberiku pengaruh positif daripada segudang teman tapi berteman denganku hanya karena sesuatu yang ada dalam diriku. Aku sudah bahagia dengan kehidupan pertemananku di sekolah, tetap menjaga tali silaturahmi dengan mereka yang bahkan aku tidak tahu siapa namanya. Aku memang agak pemilih untuk urusan berteman, karena aku tidak ingin orangtuaku kecewa karena aku berteman dengan orang yang tidak pantas. Maksudku pemilih adalah bukannya aku hanya mau main dengan orang kaya atau pintar atau apalah. Aku memilih mereka yang baik dan aku tahu siapa yang benar-benar tulus berteman denganku. Hidup ini pilihan bukan? Allah memberikan beragam pilihan, kita memilih, tapi Allah tetap yang menentukan.

AKU TIDAK ANGAS(red. nyolot)
Pendapat mereka jelas bertolak belakang dengan apa yang orang-orang bilang tentang aku. Kalau aku disebut nyolot, lalu mereka apa? Yang jelas-jelas ngomong gak enak sama seseorang. Seandainya aku ini seorang artis, aku akan bawa kasus ini ke jalur hokum dengan tuduhan perbuatan tidak mengenakkan dan pencemaran nama baik. Beuh! Maksudku gini, mereka yang kemampuannya baru segitu saja sudah bertindak seperti ini seakan mereka itu orang hebat dan gak ada orang yang berani melawan mereka. Mereka pikir mereka hebat dengan menjadi plagiat orang-orang di tivi. Please deh, harusnya itu yang disuruh ngaca alias bercermin adalah mereka. Bukan bercermin untuk bilang mereka cantik, bukan. Tapi untuk mereka mengoreksi diri sendiri se-sportive mereka mengoreksi aku (yang padahal aku sama sekali tidak merasa pada apa yang mereka tuduhkan padaku).

INI YANG TERPENTING: AKU BUKAN PELACUR!!!
Shit! Kalau sudah menyangkut masalah sensitive satu ini, jujur aku sangat terluka, terlebih umi. Karena umi yang paling tahu aku ini seperti apa. Aku, apanya yang bisa disebut pelacur?

Hampir satu sekolah juga mungkin tahu siapa yang berperilaku seperti pelacur di sekolah. Seorang cewek yang bermanja-manja dengan cowok yang bukan pacarnya, gandengan, deket-deketan, memakai seragam yan tidak pantas digunakan seorang siswi perempuan, seragamnya tipis, gak pake kaos dalam, roknya super pendek+ketat. Jujurnya sih, Bu Tuti juga pernah bilang, “Si itu memang sepertinya agak.. agak.. seperti perempuan binal”. Yah, Bu Tuti aja yang pengalaman hidupnya lebih banyak mengatakan kata-kata itu dengan sangat hati-hati. Terus gimana dengan seorang perempuan yang belum apa-apa sudah berkata demikian kepada seorang cewek yang sangat menjaga perilaku di sekolah dan dimanapun berada?

Bahkan si binal ini waktu naik motor dengan celana pendeknya pernah sampe ditawar orang. Hmm, rasanya cowok di sekolah juga tidak ada yang menganggapnya baik-baik. Yang aku lihat dari kacamata seorang perempuanku mengatakan, cowok di sekolah memandang dia seakan dia cewek murah yang gak ada harganya, soalnya diapa-apain mau. Kalau sebagai seorang perempuan, aku mengatakan, “dia cewek rendahan yang dilahirkan hanya untuk membuat malu kedua orang tuanya”. Gimana nggak?? Setiap datang ke sekolah untuk ngambil rapor, si orang tua mendapatkan daftar kenakalan anaknya secara lisan dari sang wali kelas.

Aku. Kalau ada cowok yang nyubit pipiku di sekolah aja langsung tak kemplang uwg! Temen cowok yang deket sama aku bisa dihitung pake jari. Dan tentu saja mereka adalah orang yang lulus sortir menurutku.

ORANG TUAKU MENYAYANGIKU DAN IKHLAS DENGAN APA YANG MEREKA BERIKAN UNTUKKU
Well, satu masalah sensitive lagi. Mereka bilang kasihan orang tua yang punya anak sepertiku karena yah tahu sendiri kenapa. Yang pasti aku tidak mengecewakan kedua orang tuaku dengan sikap dan sifatku di rumah dan di sekolah. Dan aku juga bukan anak munafik yang sikapnya berbeda antara di rumah dan di sekolah. Di rumah, aku Velly dan di sekolah aku tetap Velly yang sama. Lagipula oran tuaku aja ikhlas mencukupi kebutuhan-kebutuhanku, kok. Kenapa juga jadi orang-orang itu yang memikirkan tugas dan kewajiban kedua orang tuaku? Apa itu bisa berarti mereka iri karena tidak memiliki orang tua sebaik orang tuaku?

AKU BUKAN BANGSAT DAN AKU JUGA BUKAN BAJINGAN
Memangnya aku melakukan apa sampai mereka berani mengatakan seperti itu terhadapku? Apa hak mereka menyebutku demikian? Apa aku telah membunuh orang dan menjadi buronan selama bertahun-tahun? Atau aku merampok bank dan uangnya aku gunakan untuk foya-foya? Atau aku telah membakar sebuah rumah yatim-piatu agar mendapatkan asuransi? Atau aku telah membunuh saudara-saudaraku demi warisan?

Tidak kan? Aku miris deh sampai ada orang yang bisa berlaku sebegitu buruknya kepadaku. Sampai saat ini aku bahkan tidak tahu sikapku yang sebelah mana sampai membuat mereka sebegitu bencinya terhadapku.

UNTUK BAHASA INGGRIS, AKU BUKAN KEMINTER, TAPI AKU CUKUP MENGUASAINYA!
Well, ada sebuah cerita tentang Miss Cadangan, yang pasti dia bukan aku dan aku tidak mau menjadi dia. Cerita bermula waktu semester lalu ada lomba debat di Pekalongan. Jadi, dikumpulkan 5 orang di sekolah yang cukup menguasai Bahasa Inggris untuk di seleksi mengkuti lomba itu di Pekalongan. 1 diantaranya mengundurkan diri karena harus mengikuti lomba pelajar teladan di Semarang. Tersisa 4 orang dan terpilihlah Aku, Yudi dan Kiki untuk mewakili sekolah dalam lomba itu. 1 orang alias si Miss Cadangan ngaku ke ibunya kalau dia yang ikut lomba dan Aku yang jadi Cadangan. Lalu ibunya pamer sama orang sekampung. Nha, umiku yang tau kejadian sebenarnya Cuma ngakak aja dalam hati sama tingkah sepasang ibu-anak itu. Yah, bukannya ironis melihat tingkah Miss Cadangan yang bokis banget ke ibunya?

Memang sih selama ini aku belum memenangkan sekian lomba yang aku ikuti. Tapi setidaknya dari kompetisi yang ada di sekolah sebelum mengikuti lomba, aku menjadi juara kan? Terlebih lagi mendapatkan kepercayaan dari sekolah beberapa kali.

Oya, Miss Cadangan juga dapet fasilitas yang sama dengan peserta! Sialan, nggak berjuang, Cuma duduk tapi juga kebagian duit transport, makanan, jajan, dll. Akh, sial banget!

Yah, pokoknya sekarang tinggal melakukan seperti apa yang Pak Harto lakukan. Keep smiling, Penk! Kamu punya banyak orangyang tetap akan men-support kamu dalam segala suasana. Kamu masih punya Allah, keluarga, sahabat, teman, guru, serta lingkungan yang selalu sayang sama kamu. Sekedar informasi, sekarang aku merasa lebih dekat dengan keluarga dan Allah setelah peristiwa itu. Setidaknya ada satu lagi hikmah yang bisa diambil.

At Last I Say, A Velly Intewesting Blog.

No comments:

Post a Comment