Friday, May 8

I FINALLY FOUND YOU

Finally, aku tahu siapa pemilik nomor handphone yang sudah merusak hari-hariku. Awalnya aku berpikir, mungkin saat aku mengetahui siapa pemilik nomor handphone itu, aku akan mengatakan beberapa hal pada dia atau mungkin melakukan beberapa hal terhadapnya. Merencanakan sesuatu yang tidak akan mungkin dilupakan oleh si LOSER itu. Sebuah rencana yang tidak mungkin aku realisasikan.

Sebelum mengetahui siapa pemilikinya, aku berpikir mungkin saat tahu siapa dia, aku akan mengatakan bla bla blab la dan bla bla dan bla. Tapi tidak. Cukup aku tahu saja siapa dia dan sudah, aku tidak akan melakukan apapun padanya. Mengetahuinya sudah cukup menenangkanku.

Semua ini tidak lepas dari bantuan sahabatku tersayang, My Twins Ayuni. Terima kasih banyak untuk bantuanmu, Twins. Aku tidak akan mungkin bisa sekuat ini tanpa dukungan moral darimu. Terima kasih untuk investigasi yang sudah kamu lakukan untukku. Semoga kita bisa menjadi sahabat selamanya.

Sejujurnya, yang aku lakukan saat mengetahui siapa pemilik nomor itu, aku hanya terdiam dan masih berpikir. Should I do my plan to her? The answer is NO. It’s a big No No. Karena jika aku melakukan sesuatu pada dia, yang ada aku tidak lebih pintar dan tidak lebih terhormat dari mereka. Aku harus mengendalikan diriku. Yang pasti dia adalah salah satu mereka dan ini bukan suatu kebetulan.

Aku merasa hati ini yang dulunya seperti luka yang diberi garam, berubah menjadi sebuah luka yang sembuh perlahan. Aku juga tidak tahu kenapa pada akhirnya aku memutuskan untuk tetap diam dan tidak melakukan apapun kepada mereka. Aku tidak lagi semarah kemarin-kemarin saat semua peristiwa itu masih hangat membayangi hari-hariku. Aku tidak lagi meledak-ledak seperti beberapa saat lalu. Dan lagi, sekarang aku tidak menangis saat membaca lagi sms-sms dari mereka.

Sekarang aku hanya bisa memandang sinis kepada mereka. Mungkin itu satu-satunya hal yang bisa aku lakukan setiap kali melihat mereka. Aku tidak bisa balas mengumpat mereka dengan kata-kata kasar atau berbuat kasar lainnya kepada mereka. Aku tidak bisa melakukan itu karena terlalu sakit hati untuk menghadapi mereka (yang ada nanti aku dikeroyok cewek-cewek kasar itu). Untuk mengucapkan kata-kata seperti yang mereka katakan, aku harus berpikir seribu kali agar aku tega mengatakannya. Aku seorang perempuan dan masih punya hati.

Semuanya berjalan senormal mungkin, atau mungkin lebih tepatnya mencoba melaluinya senormal mungkin. Aku bukan malaikat yang melalui hari-harinya diatas hamparan padang tanpa dosa. Aku tahu aku salah karena mengungkapkan apa yang aku rasakan dengan cara yang seperti ini, karena ini masaah pribadi yang sebenarnya tidak perlu terpublikasi seperti ini (jadi berasa artis deh, xixixixixi). Tapi mau bagaimana lagi? Aku manusia biasa yang tidak bisa menyimpan ini semua sendiri. Sesuatu yang disimpan sendiri, apalagi ini menyangkut sebuah peristiwa tidak mengenakkan yang bisa diambil hikmahnya, kenapa harus disimpan sendiri? Kalo aku meledak karena tidak kuat lagi menyimpannya sendiri gimana? Aku harus curhat, karena jika memendamnya sendiri kemungkinan buruk bisa terjadi. For example, aku tertekan, aku jadi gila, aku mati muda, aku darah tinggi, atau apalah.

Sebuah cerita tentang mereka yang sepertinya memang sudah agak gila. Minggu lalu tepatnya, aku dan Ayuni diberi mandat oleh Pak Rono untuk sharing ilmu di kelas sebelah, sebuah kelas yang aku tahu persis akan ada beberapa pasang mata yang akan memandangku berbeda dan mulut-mulut tidak bertanggung jawab yang akan mengatakan hal-hal menyakitkan lagi tentangku dibelakangku atau mungkin di depanku.

Tapi untungnya, satu kelas itu dibagi 3 kelompok berdasarkan kelompok drama yang mereka dapat. Alhamdulillahnya, aku dan Ayuni mendapat kelompok yang sangat membuatku enjoy berbagi pengalaman. Walaupun mereka cowok semua, tapi itu lebih baik daripada aku harus membagi ilmuku kepada cewek-cewek kasar itu. Lagipula, kalaupun aku harus mengajar mereka, lebih baik aku menolaknya walaupun beresiko dimarahi habis-habisan oleh Pak Rono. Dan kalau itu sampai terjadi, lebih baik aku menceritakan apa yang melatarbelakangi aku menolak hal itu.

Satu peristiwa menggelitik terjadi lagi. Saat aku dan Ayuni tengah sharing dengan anak didik kami, seseorang yang tidak berkompeten di bidang ini datang kepada kami dengan tujuan meminjam sumber referensi yang aku punya. So, aku meminjamkan referensi yang full English biar dia kelabakan. Coba deh pikir, dia sama sekali buta bahasa Inggris tapi sok banget ikutan ngajar. Mau jadi apa kelompok yang dipegang tu anak? Aneh aja gitu mikirnya.

Tapi aku tidak mau memikirkan nasib kelompok itu, karena itu adalah kelompok cewek-cewek kasar itu. Beberapa saat kemudian, aku mendengar seseorang memanggil namaku dan aku mengenali suara itu sebagai suara salah seorang dari mereka, makanya aku males nengok. Dan saat aku nengok, dia tanya aku dapet dramanya yang apa. Terpaksa dong aku jawab, tapi ketus. I asked myself, “Terus kalo aku dapet drama yang sama kayak kelompokmu, kamu mau apa? minta aku ngajarin kamu?? Aku gak sudi berbagi ilmu sama kamu! Ilmuku mahal!”. Pengen banget rasanya ngomong gitu. Secara, Pak Rono exklusif berbagi ilmu Cuma sama kelompokku. Otomatis ilmu yang kami dapet lebih banyak dari kelompok lainnya. Makanya, aku ogah berbagi dengan mereka yang jahat kepadaku.

Aku mikir, memangnya dia tidak merasa bersalah dengan apa yang telah dia lakukan padaku? Masih punya otak gak sih? Punya malu gak? Mikir gak perasaanku? Atau situ amnesia? Dia bilang aku sok pinter aku sombong, tapi apa? kelompok dia minta pinjem referensi aja masih aku pinjemin kan? Dia tanya masih aku jawab kan?

Untuk drama yang satu ini, aku tidak mau main-main. Karena taruhannya nilai di raport. Selain itu, kata Pak Guru drama ini untuk dilombakan Se-Jateng. Denger gitu, aku langsung berambisi biar kelompokku yang kepilih. Aku harus bisa! Gak peduli apa pendapat orang, mau bilang aku apa itu terserah mereka. Aku tidak punya hak untuk mengatur apa yang keluar dari mulut mereka.

Rasanya tenang banget setelah tahu siapa pemilik nomor handphone itu. Rasanya aku tidak lagi menjadi sebuah arwah penasaran yang mencurigai orang-orang di sekitarku lagi. Sekali lagi, terimakasih banyak kepada semuanya yang telah mendukungku. Terima kasih banyak, aku bukan apa-apa tanpa kalian.

No comments:

Post a Comment