Saturday, May 23

STILL ABOUT ME AND MY SUCK ENEMIES

Hari ini baru sempet posting, kemaren-kemaren gak sempet bawa lappy ke sekolah. Pengen cerita lagi nih Blog. Something, still about Me and my suck enemies. Musuh yang sampai hari ini aku bahkan tidak tahu alasan mereka memusuhiku. Musuh yang sejujurnya sangat menguras tenaga dan pikiran aku. Seberapapun berusahanya aku tidak memikirkan masalah ini, pada akhirnya aku harus dan akan tetap memikirkannya. Karena aku tidak ingin sekali lagi jadi arwah penasaran yang menangis kala malam dan sok ceria di depan semua orang.

Ok, di mulut aku mengatakan aku tidak akan lagi mengurusi mereka. Tapi aku tidak bisa. Walau bagaimanapun, aku bukan nabi yang kesabarannya seluas gurun Sahara. Sampai saat ini aku masih memikirkan semua hal yang sudah-sedang-akan terjadi kepadaku. Aku munafik karena mengatakan kepada orang-orang terdekatku bahwa aku akan melupakan semua hal yang telah menyakitiku. Padahal sampai sekarang, aku masih mengingatnya lekat-lekat.

Kemaren aku menangis di depan salah satu sahabatku, Coshy. Kami bertemu saat bel pulang sekolah. Hanya kebetulan ketemu karena Coshy harus menunggu jemputan dan kami menyeberang bersama. Sembari kami menyeberang aku berkata, “Coshy… Aku mau cerita! Aku pengen nangis…” dengan suara yang sudah tidak bisa lagi menahan air mata. Waktu nyeberang, aku sempet disapa Ike, Binta, Lemper, terus gak tahu siapa lagi. Tapi aku nggak ngurusin. Maafkan aku yah sobat, aku udah pengen banget nangis waktu itu.

Sesampainya di seberang sekolah, aku langsung meluk Coshy dan menangis sambil menceritakan apa yang terjadi. Aku bercerita dengan air mata berlinang dan ingus yang juga berlinang, Haha. Aku bilang ke Coshy kalo sekarang aku jadi semakin lemah. Lebih lemah dari Aku yang dulu. Sekarang sangat gampang menangis. Sekarang jadi sensitive. Sekarang jadi perasa. Sekarang jadi pemikir.

Aku ingin berterima kasih kepada Hana tersayang yang kemaren bercerita tentang sesuatu dengan sangat hati-hati dengan maksud kata-katanya tidak menyakitiku. Terima kasih kepada Hana karena tanpa aku mintai bantuan, dia telah dengan senang hati membantuku membersihkan namaku yang dirusak oleh enemiesku.

Banyak teman di sekolah yang ketika mendengar kisahku malah jadi mereka yang pengen ngelabrak enemies jahatku. Aku nggak tahu kenapa mereka segitu pengennya melihatku hancur. Aku tidak melakukan apa-apa kepada mereka (dalam artian melabrak atau melakukan kekerasan fisik maupun mental lainnya) dengan pemikiran, “Aku diam saja mereka bisa segitu kejamnya menghancurkan aku perlahan. Lalu bagaimana kalau aku melakukan sesuatu kepada mereka? Bukannya sudah bisa diketahui kalau mereka akan melakukan manuver penghancuran secepat kecepatan cahaya?”. Itu satu-satunya pertimbanganku. Dan lagi, aku tidak ingin lagi-lagi harus menangis di depan umiku tersayang. Aku tidak ingin lagi-lagi dia harus menangis dan merasakan sakit melebihi apa yang kurasa. Sudah cukup, biar aku saja yang merasakan sakit. Biarlah aku menangis, asalkan tidak harus menangis di depannya.

Memang sih terdengar naif, tapi itulah yang aku rasakan. Sudah pasti setiap anak tidak ingin melihat oarang tuanya terus-terusan bersedih dan memikirkan hal-hal buruk yang menimpa anaknya. Ada hal yang harus diceritakan dan ada juga hal yang harus disimpan sendiri tapa orang tua harus mengetahuinya.


Tadi Twins tanya, "Penk, kata Cocos kemaren kamu nangis? Kenapa?". Hhuhu, banyak sekali yang mengkhawatirkan aku ternyata..., jadi tersanjung nih! ^o^


Twins menganggap ini sudah merupakan sesuatu yang serius dan tadi Twins udah nafsu banget pengen ngelabrak enemies-ku yang mennyebalkan itu. Kata Twins kalo dia jadi aku, udah dari dulu banget dia ngelabrak orang itu. Tapi aku nggak bisa. Kalo aku ngelabrak mereka, ada juga mereka bakal lebih menggila lagi melakukan misi penghancuran.

Aku capek lahir batin. Ini udah nggak sehat. Mereka menganggap aku ini apa? Salahku dimana? Secara fisik, aku ngga pernah menyakiti mereka. Kalo misalkan ada omongan atau kata-kataku yang salah, kenapa mereka nggak tanya dulu atau mengklarifikasi ke aku biar bisa diluruskan dan masalahnya nggak jadi separah ini? Ini sudah lebih kepada misi penghancura, pembunuhan karakter, pencemaran nama baik, dan banyak pasal lagi yang ikut serta dalam kasus ini.

Letih menjalar. Sumpah. Bahkan sekarang aku mulai menyesali keputusan semasa SMP, kenapa dulu aku harus ngedaftar di SMA 1? Kenapa aku nggak keluar kota aja? Dengan nilai segitu, pasti gampang kan nyari sekolah? Bego! Kenapa penyesalan selalu datang terlambat? Klise.

At last I say, A Velly Intewesting Blog

No comments:

Post a Comment