Tuesday, June 2

FOR SOMEONE THERE (Story about My besties)

Sabtu, 30 Mei 2009 semoga menjadi salah satu hari terbaik dalam hidupku setelah sekian banyak hari-hari mendung menyelimutinya. Kembali memperbaiki hubungan dengan sahabat lama semasa SMP, masih sih sebenarnya sampai saat ini. Sahabat, sampai kapanpun akan tetap menjadi sahabat. Walaupun statusnya musuh sekalipun, sahabat tetap sahabat. Pasti ada perasaan lain yang melarang kita menyakiti satu sama lain. Walaupun akhirnya sempat saling menyakiti, sahabat pasti bisa memaafkan sahabat lainnya dengan perasaan tulus setulus-tulusnya.

kami memang hanya 4 orang cewek yang masih sangat labil dengan pemikiran berbeda untuk setiap kepalanya. Kami mudah membuat keputusan, tapi kami dengan mudah pula menyesalinya pada saat yang bersamaan. Terganjal rasa gengsi untuk saling mengakui kesalahan, terganjal ego untuk saling memaafkan. Itu lumrah. Setiap manusia pasti merasakannya.


This is the story ABOUT MIRACLE OF FRIENDSHIP…

Waktu bel bunyi, aku langsung pergi ke kelas Pep buat wawancara tentang kemajuan kasus dia sama satu orang makhluk yang Na’udzubillah najise named WPS. (Disini aku terang-terangan menyebutkan inisial, karena aku jelas-jelas nggak suka sama tuh orang karena udah sakitin soulmate aku). Back to the story. Terus sampe di depan kelas IPA 7, aku ketemu Rora lagi ngobrol sama orang dari Primagama. Lalu aku narik tangan Rora, lalu kami jalan ke kelas Pep di IPA 6.

Then, Pep ngajak Q and Rora buat duduk di depan kelas 12 yang sepi ditinggal para penunggunya. Kami duduk, ngobrol sebentar terus Rora ijin bentar mau bayar BOP. Sepulangnya dari bayar BOP, Rora nggandeng seseorang. Seorang sahabat named Roro. Kita duduk berempat lesehan, dan dimulailah Rora berpidato. Pidato yang puanjang luebar tapi intinya Cuma satu, yaitu dia pengen kami balik kayak dulu lagi. Berempat kayak waktu masih SMP, sekalian tadi maaf-maafan sebelum semesteran.

Terus kami saling sharing. Sharing masalah aku and masalah Pep yang yeah, bisa dibilang hampir sama. Yeah mencoba kembali seperti dulu lagi, walaupun awalnya masih canggung. Tapi seiring waktu, dan pembicaraan yang kami obrolin, semuanya membaik.


It’s the truth ABOUT OTHER STORIES…

Setiap orang boleh berpendapat dan bebas berpendapat. Kebebasan berpendapat memang dilindungin Undang-Undang. Tapi itu tidak bisa dijadikan alasan untuk seseorang berpendapat yang merugikan orang lain. Aku tidak akan bercerita tentang kisahku, sudah cukup membahasnya. Tapi ini kisah lain tentang sahabatku, Pep.

Seseorang dengan inisial WPS yang aku anggap sangat IMMORAL karena membiarkan sahabatku yang sangat polos dan pemalu itu merasakan sesuatu yang sangat tidak diharapkannya. Sebenarnya mungkin kalau aku harus menyebutkan namanya, aku akan menyebutkan namanya dengan capital+bold+underline+italic, agar terlihat sangat mencolok. Tapi tidak. Aku masih punya hati untuk tidak menyebutkan namanya dan mempermalukan dia disini. Secara, aku tahu, there are so many friends who know her going to read this note.

Jadi ini semacam Quiz. Guess who is she behind WPS initial? Cari di buku absen IPA 6!

Dia merupakan orang yang sangat pintar memutarbalikkan fakta. Ya ampun, kayaknya SMANSA kok gudang orang muna sih? Si WPS ini bikin Pep dibenci orang sekelas. Nah loh?! Kejem kagak?

Dengan cara menjelek-jelekkan Pep di chatroom Mxit waktu anak-anak IPA 6 pada nge-rum. Bukan Cuma Pep sih yang dikucilin di kelas, ada Intan, Iin, Tita, terus ada beberapa lagi. Aku herannya, si WPS ini kan kenal deket sama Pep, tapi dia bisa dengan lancarnya nge-judge orang yang dia cuma tahu sekilas aja. She judge her karena Pep polos and lugu. Emangnya gak boleh apa jadi orang kayak Pep? Is WPS crazy or something??!

Terus si WPS ini, waktu ditanyai maksud dia apa, jawabannya adalah BERCANDA. Brengsek banget nggak tuh? Apa gitu caranya bercanda? Dengan menjelek-jelekkan orang di depan banyak orang? Dengan membuat hampir semua orang di kelas benci sama Pep dan orang-orang yang deket sama Pep di kelas? Dengan membuat seolah-olah dia yang tersakiti dengan selalu nangis kalo ditanyain? Dengan terus-terusan mencecar Pep dan teman-temannya di kelas agar minta maaf duluan?

Punya otak nggak sih? Pintere nangis tok! Mending kalo pas nangis nggak lari-larian kayak film India!? Itu udah nangis, sambil lari-lari pula keliling sekolah! Maksudnya apa coba? Autis tu orang! Mau pamer ada yang bikin kamu nangis? Udah salah, gak mau minta maaf! Yang dirasa tu apa sih? Kenapa Pep selalu salah dimata dia? Emang yang bener tu yang kayak apa? Kayak situ yang pinter acting?

Dasar! Ngerasa sempurna? Situ cantik yah? Situ pinter yah? Situ tajir? Situ baik hati? Situ sempurna? you have to think it, take your mirror, see your face there, and you are gonna awake. Satu hal, Cuma satu hal kelebihan kamu, yaitu gigi. Gigi overload aja!

Sebenernya kalo boleh ngomong dan ikut campur, aku pengen banget ngomong sama kamu. Tapi entar aku dikira ikut campur urusan intern kelas IPA 6. Tapi ini menurut aku nggak ada sangkut pautnya sama kelas sih. Tapi aku masih menghormati kelas kamu dan kamu, W P S! secara kelas kamu kan semuanya tunduk sama kamu. Ntar aku diusir lagi dari sana, nggak boleh maen lagi di IPA 6.

Try to ask yourself. Apa semua orang ada di pihak kamu di kelas, tulus dan bener-bener memihak kamu tanpa ada sedikit pun rasa benci sama kamu? Nggak yang cowok nggak yang cewek semuanya bego (kecuali Pep dkk). Bego karena mau aja percaya sama mulut overload-nya si WPS. Hampir semua orang juga tahu gimana sikap dan sifat WPS, ngapain juga masih dipecaya? Haduh, tobaaaat tobaaaaaatttt! Susah ngomong sama orang-orang yang mata hatinya ketutup.

Terus yang lebih eneg lagi, minggu kemaren dia berangkat sekolah dengan satu mata yang ditutup perban. Kenapa nggak sekalian satu badan aja diperban? Biar situ nggak ngebahayain orang lagi! Alesan nutup satu matanya pake perban adalah karena kebanyakan nangis! Mengada-ada banget kan?!

Coba deh mikir, bukannya kalo nangis itu dua mata yang keluar air mata? Itu berarti mata’e dia yang produksi air mata Cuma satu donk!? Mata yang pinter acting Cuma satu donk?! Pengen banget nyolok satu matanya lagi pake garpu biar dua matanya diperban semua! Oh Tuhan, kenapa orang kayak dia nggak dimusnahin aja sih? Ngidam apa sih ibunya sampe bikin anak kek iblis gitu?

Pep bilang kalo dia lebih menghargai orang yang secara terang-terangan ngomong ke Pep kalo dia benci Pep daripada yang kek si WPS itu. Aku menamai ini sebagai perang dingin, karena WPS nggak terang-terangan ngomong, tapi ngomongnya di belakang. Orang kek situ harusnya diapain sih, WPS? Sumpah dah, baru nemu orang kek situ.

Aku udah coba bilangin Pep biar dia cerita ini ke Mamanya, tapi dia nggak mau. Dia takut mamanya nangis lagi kalo dia cerita dia dijahatin orang. Cerita sebelumnya: Ada orang yang nyoba ngefitnah Pep dengan naruh dompet anak kelas situ juga di tasnya Pep. Isi duit di dalam tas udah diambil. Pep cerita ke mamanya, terus mamanya nangis-nangis.

Kok ada yah orang yang kejem banget gitu? Punya hati nggak sih? Yang ada di pikirannya tuh apa lho? Pengen banget mbedah isi otak orang kek gitu. Mbok WPS tu dibawa ke psikiater ato les kepribadian gitu? Najis dah sama orang kayak dia!

Pesan untuk Pep: Tenang Pep, I’m with You. Mbok kamu jangan terlalu diem gitu to… Dilawan napa?! Apapun yang terjadi, I’m with You. Perlahan semuanya akan terungkap.

Pesan untuk Penk (Myself): Sekarang saatnya membesarkan hatimu dan hati Pep, karena kalian senasib.

Pesan untuk Roro: Keep in touch! Semoga selamanya jadi sahabat dan semuanya membaik.

Pesan untuk Rora: Kita harus terus mendukung Pep dan kita maju kalo WPS udah keterlaluan.

Pesan untuk WPS: Wait, see, and realize KARMA itu ada. And when you got it, I’m gonna say “Congratulation” to you. Your victims and I are gonna laugh at you loudly. It is louder than any laughs that you ever heard.

No comments:

Post a Comment