Saturday, October 3

MAYBE, I START TO LIKE THIS

Well, segalanya bisa berubah kan? Termasuk pendapatku tentang kelasku, XII IPS2. Benar juga, waktu bisa mengubah segalanya. Penasehat terbaik adalah waktu.

Mungkin benar, aku salah karena dulu pernah memiliki rasa antipati yang terlampau besar terhadap kelasku sendiri. Dulu, aku menganggap semua sama. Mungkin itu juga karena ketakutan berlebihan juga sih akan terjadi hal-hal serupa sama aku. Jadi, aku mencap kelasku sebagai sebuah tempat yang paling aku benci. Tapi ingat, itu semua juga bukan tanpa alasan. Aku punya alasan kuat, sangat kuat untuk membenci kelasku. Harus merasakan sekelas dengan orang yang menyakitiku, berada di kelas dimana mereka mendominasi, berada di kelas dimana aku terpisah dengan sahabatku. Dan saat itu, aku pesimis bisa bertahan untuk jangka waktu yang lama disana.

Imagine I struggled alone there. Try to make sure myself that I’m stronger than them and I could survive there. Berkali-kali, aku mencoba meyakinkan diri sendiri kalau nantinya aku akan menemukan sesuatu yang menyenangkan di kelasku. Setiap pagi menjelang berangkat sekolah, aku berdoa agar aku terlihat senang berada di kelas itu. Intinya, aku hanya ingin terlihat kuat agar mereka tidak bisa lagi membuatku merasa lemah.

And I can’t lie myself that I start to like this class. Dengan segala dominasi makhluk-makhluk itu. Dengan segala kebaikan tulus yang aku dapatkan dari teman-teman baru. Dengan segala persaingan antara aku dan mereka dalam banyak hal (dan dalam pelajaran, aku lebih baik dari mereka). Dengan segala kekurangan dan kelebihan kelasku. Sebuah kelas yang aku rasa perbedaan menjadi satu-satunya hal paling benar disana.

Tapi, bukan berarti aku rela melihat mereka bertingkah di depanku. Tidak. Aku tidak akan pernah rela mereka senang diatas penderitaan seseorang dan beberapa orang. Bukannya bermaksud kejam, tapi dunia ini memang kejam kan? Hanya orang-orang kuat yang akan bertahan. Orang akan terbiasa tinggal dengan kotoran kuda, jika itu memang terpaksa. Tapi, apa orang itu harus selamanya meratapi nasib tinggal dengan kotoran-kotoran itu? Tidak kan? I mean, mereka boleh mendominasi di dalam kelas. Tapi mereka nggak akan pernah bisa mendominasikan diri mereka terhadap aku. Karena walau bagaimanapun, yang namanya kotoran kuda, harus disingkirkan. Meskipun baunya nggak semudah itu hilang. Well, anggap aja mereka kotoran kudanya.

I hope, kalian tahu siapa yang aku maksud dengan mereka. Mereka bukanlah teman-teman baruku yang baik dan mendukungku. Mereka bukanlah orang-orang dengan sejuta niat baik dan tutur bahasa yang halus. Mereka bukanlah orang yang suka merendahkan hati di depan orang lain. And, they aren’t people that I wanna be with, forever and ever.

Aku rasa, kalian tahu siapa jawabannya. Dan aku rasa mereka juga menyadari keadaan itu. Menyadari kalau permintaan maaf pura-pura mereka saat hari pertama masuk sekolah setelah libur lebaran itu hanya akan menambah rasa benciku terhadap mereka. Aku hanya ingin mengatakan (kalaupun mereka membaca ini, atau ada orang yang diam-diam mengatakan ini kepada mereka): Kalau aku adalah kalian, aku nggak akan memaksa diri ini meminta maaf pada orang yang sangat dibenci. Tapi aku rasa kalian tidak cukup pandai untuk melakukan itu, dan akhirnya memaksa diri kalian untuk berpura-pura “minal aidin” denganku. So, apa aku bisa menganggap itu sebagai bendera putih yang kalian kibarkan padaku? Tidak. Karena aku rasa dan aku sadari, kalian terlalu sombong untuk mencoba sedikit saja merendahkan hati dan menyadari kekeliruan kalian. Ingat, kalian bukan siapa-siapa,belum jadi apa-apa. Diatas langit masih ada langit.

Well, aku menemukan teman-teman baru yang baik disini. Ada Elisabeth, Mirna, Yolanda, Mayang, Yeni, and many more. EMYMY baik banget! Dan satu diantara EMYMY menyadarkanku tentang sebuah kesalahan yang selama ini aku tidak ketahui. Satu diantara EMYMY bilang kalau mereka (mereka here means my enemies) dulu ngatain aku kasar gitu karena aku balesin sms itu dengan kasar terlebih dahulu.

Hey, don’t you know that you’re more expert than me when did it? Aku nggak punya maksud kasar sedikitpun pas mbales sms itu. Mungkin iya, aku mbalesnya dengan ketus dan sinis. But, itulah caraku membalas sms dari orang yang aku sama sekali nggak tahu, dan apalagi terhadap orang yang tiba-tiba sms yang isinya merintah gitu. Who are you?! Tanpa permisi, tanpa identitas langsung merintah orang seenak udel gitu. Ikh, najiz! Jangankan sama orang yang nggak dikenal, sama yang dikenal pun, kalo memang lagi nggak mood aku mbales juga mbalesnya gitu kok.

But, it doesn’t matter. Itu bukan sebuah hal besar buatku. Setidaknya aku sudah tahu alasan mereka ngatain aku kasar gitu. Tapi, apa pantas menganggap sms balesanku yang pertama sebagai sms yang kasar, membuat mereka menghina aku sedemikian rupa? Itu bukan alasan. Setidaknya itu kalau mereka masih bisa berpikir dan tidak lebih bodoh daripada udang-udang busuk di Tempat Pelelangan Ikan. Dan aku rasa, mereka tidak cukup pintar untuk membedakan mana sms yang ‘kasar’ dan sms yang THE REAL kasar.

Yang pasti, semenjak permainan Truth or Dare pas pelajaran kosongnya Bu Endang Lestari, aku jadi ngerasa nyaman sama kelasku. Dan aku juga jadi mendadak kangen sama EMYMY. Tapi, kemaren aku nggak berangkat gara-gara mimisan akut, jadi nggak ketemu and sharing sama mereka deh L

But, after all, I think I start to like my class. It’s unbelievable, right? I like a class where I stay with my enemies?! Aku mulai kerasan tinggal di kelas dimana aku menemukan begitu banyak masalah (dengan sesame murid dan wali kelas)? Aku nggak pernah sebermasalah itu seumur hidup. Semoga aja itu bukan kesenangan sesaat yang ada untukku di kelas itu.

Setelah hari-hari gelap menyelimuti, aku yakin suatu saat nanti akan ada orang-orang yang menyinari hariku seperti cahaya lilin yang berpendar meyelimuti malam di sebuah gubuk kecil. Lebih baik menjadi sebuah gubuk kecil yang hangat oleh lilin, daripada sebuah rumah mewah yang memiliki banyak lampu gemerlapan. Lilin sama lampu masih lebih hangat lilin kan? Dan menurutku, cahaya lilin lebih murni, lebih sederhana, dan lebih berarti daripada lampu. Aku harap, orang-orang yang Allah kasih buatku akan memberikan kebaikan yang murni dan tulus untukku, seperti cahaya lilin.

Karena jika seseorang seperti lilin, ia akan bisa bertahan dimanapun. Ia tidak membutuhkan listrik, kabel, dan berbagai macam alat lainnya untuk berada di suatu tempat. Lilin bisa bertahan di sebuah gubuk kecil dan di tengah rumah mewah. Sementara lampu, ia tidak sekuat lilin. Ia bertahan di rumah mewah itu karena bergantung pada sesuatu, yaitu listrik. Dan kau harus mencari tahu apa yang membuat ‘lampu’ itu bertahan di dekatmu. Orang yang seperti lampu itu orang yang hanya bertahan saat bahagia dan pergi saat sengsara. Dan saat orang ditinggalkan oleh lampu, ia akan beralih ke lilin. So, jadilah lilin yang akan selalu dicari orang karena kehangatan dan kemurnian cahayanya yang membuatnya berarti. Aku harap aku adalah lilin untuk orang-orang di sekitarku.

Wait! Kenapa tiba-tiba ngomongin lilin vs lampu sih? Hahaha, thanks for reading.

Oh Gosh! I miss this sentence. Udah lama nggak pake kalimat ini diakhir blog. Salah satu kalimat favoritku. Here it is!

At last I say, A Velly Intewesting Blog.

No comments:

Post a Comment