Tuesday, November 24

AKU CUMA BISA TERSENYUM

Kepada
Nak Veliati muridku yang baik hati

Saya menghargai ucapan waktu rapat guru di ruang multimedia tapi perlu saya klarifikasi bahwa:
~Saya mempunyai lembaga bimbingan sudah 23 tahun
~Saya tidak pernah memaksa anak-anak ikut bimbel saya toh saya berkali-kali pernah bilang, silahkan cari tambahan materi diluar tidak harus pada gurunya
~Sampai sekarang yang aktif ikut bimbel hanya 3 orang yaitu Octi, Sandi, dan Risqi. Yang uloai detik ini juga saya larang berangkat, lebih baik keluar saja daripada merusak citra dan harga dri SUCCESS
~Tahun-tahun sebelumnya anak-anak kelas 12 IPS yang ikut bimbel tidak pernah merasa diperlakukan istmewa ataupun yang tidak ikut bimbel diperlakukan sewenang-wenang karena saya tidak merasa demikian, terbukti tidak pernah muncul dalam dialog dua arah atau forum lain
~Saya memperlakukan anak sama bagi yang tidak melakukan kesalahan saya tidak memperingatkan tapi bagi yang melakukan kesalahan saya ingatkan
~Saya tidak pernah menghubungkan nilai anak yang ikut bimbel dengan yang tidak karena jika demikian berarti pengkhianatan terhadap pendidikan, dengan ucapan sumpah demi Allah yang saya ucapkan hari sabtu sore
~Menjelang ulangan harian maupun semua anak saya beri kisi-kisi tidak pilih kasih
~Saya tidak punya niat sedikitpun membocorkantes injeksi kepada Octi dan temannya karena yang dibahas adalah injeksi tahun 2007. Jadi saya tidak ingat sama sekali bahwa injeksi kemarin sama untuk tuduhan tersebut saya tidak terima
~Saya berprinsip apalah artinya membocorkan soal toh ekonomi adalah mapel UN sehinngga kalau membocorkan sama saja menjerumuskan anak didik
~Perlakuan tidak adil terhadap anak yang ikut bimbel dan yang tidak ikut bimbel tak pernah terbukti karena saya dalam pemberian nilai transparan
~Saya sengaja keras di kelas agar mau belajar dengan baik tetapi nanti pada saat mendekati ujian akan saya bimbing menguasai SKL demi SKL dengan penuh kesabaran
~Seingat saya pada saat mengajar saya tidak pernah mengantuk, mengantuk hanya pada saat menunggu anak-anak mengerjakan tugas. Kalaupun mengantuk, itupun terpaksa karena melamnya habis pengajian pulang malam dan itu manusiawi
~Saya prihatin dengan penguasaan materi UN anak-anak, maka saya bermaksud mengadakan try out gratis baik soal maupun LJK dari kami termasuk bonus pulsa bagi nilai terbaik, harapannya setelah try out dapat diketahui pada SKL mana saja yang sudah dikuasai dan SKL mana saja yang belum tetapi kenyataannya reaksi anak-anak tidak ada respon
~Saya memberikan soal-soal UN selama 10 tahun untuk dipelajari dan akan dibahas bersama-sama atas bimbingan guru, harapannya anak punya gambaran soal UN yang akan datang
~Sebagai guru perlu menanamkan sikap, moral, dan agama sehingga pada saat mengajar wajar kalau diselingi nasehat dan cerita yang ada hikmahnya jadi bukan membuang-buang waktu
~Selama saya jadi guru 22 tahun baru kali ini ada anak berani kurang ajar mempermalukan guru di depan kepala sekolah, pejabat sekolah, dewan guru, dan staff tata usaha

Asumsi saya:
>> *Dari kata-kata ini, siapa sebenarnya yang lebih subyektif???
~Selama saya mengajar sya membaca raut wajah kamu benci karena pernah saya usir waktu terlambat masuk
~Kamu kelihatan menyepelekan banget pada saat saya mengajar barangkali sudah merasa sudah lebih pintar dari gurunya
~Ada guru lain yang memang mensuport agar kamu berani mempermalukan saya atau paling tidak berani bicara yang kamu rasakan (subyektif) pada forum rapat guru

Kesimpulan:
~Sejak semula saya mengatakan bahwa anak-anak sekarang tidak punya adab sopan santun dan etika terhada guru terbukti dengan kejadian sabtu sore itu dan kamu termasuk murid yang tidak beradab
~Seharusnya kalau ada uneg-uneg dan sesuatu yang mengganjal mestinya dibicarakan dulu dengan gurunya atau wali kelasnya atau wakasek kurikulum
~Mesinya dengan saya bersumpah di depan guru-guru kamu tidak perlu menambah omongan yang tidak berdasar belum terbukti kebenarannya dan itu sudah kategori fitnah termasuk pencemaran nama baik maka hati saya tidak menerima perlakuan kamu yang seperti itu

Harapan:
~Dengan penuh kesadaran dan keikhlasan tanpa tekanan kau harus berani mencabut ucapanmu dan meminta maaf atas kelancangan dan kekeliruan yang kamu lakukan

FINISH

Ada yang mau berpendapat? Atau ada yang mau menambahi? Atau mungkin ada yang mau mengurangi? Karepmu!

Sudah dua hari ini aku seperti berada di bawah tekanan orang-orang. Aku sudah mencoba bersikap sebiasa mungkin. Senatural mungkin di depan mereka. Tapi, apa yang aku dapatkan malah perilaku kurang menyenangkan.

Dimulai kemarin, saat pelajaran geografi. Jadi guru geografi waktu itu sempat kena kritik aku. Di forum padahal aku sudah meminta maaf dan bersalaman. Dan ada saat itu aku menganggap itu sudah berakhir. Tapi aku salah. Itu baru awal dari apa yang akan terjadi hari senin.

Senin ada tambahan geografi, aku datang terlambat ke kelas (karena biasanya memang tidak pernah masuk). Hari itu aku mencatat 3 kejadian kurang mengenakkan. Pertama, saat giliran aku membaca dan menjawab soal, aku malah dilewati. Yang kedua, saat pelajaran aku disindir. Yang ketiga, istirahat kedua selesai, aku bersama Elisabeth dan Twins ngobrol di deket tangga lalu saat kami mau berbalik ada guru tersebut. Aku ngobrol sama Twins yang kebetulan saat itu pelajaran geografi, jadi dia balik ke kelas. Tapi sebelum itu aku tanya ke Twins, “Kamu pelajaran geo?”. Dengan smiling face, aku ngeliatin bu itu. Tapi aku malah diliatin dengan waut wajah yang sangat tidak manusiawi (apaan?).

Terus istirahat pertama, aku dipanggil kepala sekolah. Kronologis terjadi waktu aku ke Kanjur buat beli titipan krupuk merconnya Mirna sama Elisabeth. Terus dengan krupuk mercon seplastik besar, aku mau pulang ke kelas tapi lewat anjungan. Ada pak Rodiyanto, beliau bilang aku dipanggil Kepsek. Aku ngiranya sih becanda. Lhawong aku biasa becanda sama Pak Rodiyanto. Terus akhirnya Kepsek keluar dari kantor beliau dan memanggil saya serta mempersilahkan saya masuk ke ruangannya dengan krupuk mercon sak plastic-plastike. Ngobrol biasalah, penegasan aja tentang pendapatku sabtu lalu. Terus aku keluar and balik ke kelas. Di kelas dinanti teman-teman tersayang yang langsung mengerubungi dan bersorak gembira mendengar berita yang aku bawa. *Berasa artis nih!

Kemarin berbeda dengan hari ini. Hari ini aku harus berhadapan dengan orang itu, si monster tukang tidur. Kasian Mami, ikut kena imbas karena kritikanku ke si monster sabtu lalu. Awalnya pelajaran berjalan seperti biasa. Aku mecoba bersikap sebiasa mungkin.

Semua berubah ketika dia mulai meyinggung kejadian di forum sabtu lalu. Dia ngasih aku kertas *kertas yang tulisannya persis banget sama opening diatas. Dia ngasih terus nyuruh aku baca. Dasare bocah dodol, aku mbacane keras-keras. “Kepada Nak Veliati muridku yang baik hati” aku mbaca gitu keras-keras pas keadaan kelas lagi diem. Aku dibentak, “Diwaca dewek!”. “Oooo” aku Cuma ngrespon gitu.

Buset dah, pertama nerima tu surat aku udah dag dig dug dang dung otek otek tau gak!? Masalahnya aku nggak tau itu surat apaan. Barang ta waca, oooo saya baru paham kalau itu ternyata surat yang kemarin dipresentasikan di kelas sebelah. Klarifikasi gitu deh. Tadi aku di kelas tekanan batin. Dibentak, dikatain, dipermalukan, pokoke tumplek blek jadi satulah.

Setelah itu, dia bilang dia minta aku sama esmi bikin surat pernyataan meminta maaf secara tertulis dan mencabut semua omonganku waktu sabtu. Tau gak, lebih nekatnya lagi tuh surat pernyataan bakal dipajang diruang guru. Ckckckckckc, sama aja bunuh diri gak sih? Kalo aku sampe ngelakuin itu, itu sama aja aku ngomong kalo aku ngefitnah tuh orang. Dan dia akan merasa menang. Dia bilang dia nggak akan memperpanjang kalo aku ngelakuin itu. Tapi ada sebuah keyakinan di dalam diriku yang bilang kalaupun aku ngelakuin itu, yakinlah Vel, dia tidak akan menganggap itu selesai dan masih akan tetap dendam serta mengungkit-ungkit masalah ini. Yang lebih gilanya lagi, kalo aku nggak ngelakuin itu, aku bakal dikeluarin dari kelas dia.

Aku sih nggak apa-apa. toh daripada aku mbati dosa tok di kelas. Tapi yang aku permasalahkan adalah aku kelas 12. Masa aku rela entar nilai di rapot ancur ato kosong ato presensi yang bermasalah sih? Hello! Aku juga pengen ikut PMDK kaliiiiii… Bingung nggak sih?

Temen-temen sih nyaranin biar nggak ngelakuin itu. Aku juga nggak mau. Siapa juga yang mau mau-maluin diri sendiri kayak gitu? Apalagi hal itu akan membuat aku terlihat sangat lemah dan menerima kekalahan. Aku nggak boleh kalah. Mereka selalu mendukungku. Tapi mereka bisa apa coba? Paling Cuma dukungan moral kan? Apa mereka bakal demo atau ngelawan tuh guru? Aku nggak yakin mereka seberani aku. Tapi makasih untuk semuanya. terutama Twins and Ell yang membantuku banyak sekali dalam investigasi mengumpulkan bukti-bukti.

Kalopun aku jadi minta maaf, tapi hanya sebagai formalitas agar menyelamatkanku di kelas tuh monster, aku rasa aku tidak lebih dari seorang munafik kalau sampai aku melakukan itu. Aku nggak mau itu terjadi. Aku nggak mau seperti orang yang saat aku mintai maaf bisa bersalaman denganku dan tersenyum serta mengobrol beberapa saat, tapi ujung-ujungnya bersikap diskriminatif juga.

Walau gimanapun, aku masih lebih menghargai Bu EJ dan Pak ST yang menerima dengan positif kritik dariku. Pak ST bilang, “Ya itu namanya kritik yang membangun. Kalian ngingetin saya kalo saya mbedud. Saya juga ngingetin kalian kalo kalian mbedud”. Walhasil, pelajaran beliau makin baik aja tuh, udah mengurangi huru-hara partai horenya. Dan Bu EJ juga tadi masuk dan malah bersikap lebih baik ke aku.

Kalo minta dikritik tapi ujung-ujungnya malah masalah gini, mending dari awal ada peringatan gini, “Untuk bapak ini ini ini atau ibu ini ini ini haram dikritik. Kalau kalian mengkritik, itu sama saja dengan kalian mencari masalah”. Sekarang siapa yang kekanak-kanakkan? Murid yang mencoba menyampaikan pendapatnya atau guru yang tidak terima pada kritik-kritik itu?

Aku udah konsultasi dengan beberapa guru. Ada yang nyuruh aku ngikutin maunya si monster dengan bikin surat pernyataan, ada yang nyuruh minta maaf secara lisan terus masalah maafin ato gak terserah si monster, ada juga yang nyuruh langsung ke kepala sekolah, ada lagi yang nyuruh pake pengacara. Hahahaha, sumpah yah! Ternyata aku bikin geger to? Hampir setiap guru yang ketemu aku pasti tanya tentang masalah sabtu lalu, udah selese ato belum. Ada juga yang biasanya senyum, tapi langsung berubah sikap. Ada yang diam-diam melototin. Haduh!

Hari ini aku juga sensi banget di kelas. Pokok’e selepas pelajaran tu orang, aku langsung bereaksi teradap setiap orang yang sengaja ato nggak ngeliatin aku. Biasanya dengan, “Apa koen?” atau “Apa sih ngeliatin aku?” atau “Apa?”. Bahaya tuh kalo lagi sensi gitu.

Pokoknya aku sangat berterima kasih kepada sahabat-sahabat dan teman-temanku tersayang yang sudah mendukungku. Keluarga dan guru yang tidak pernah berhenti menguatkanku. Aku sangat sayang kalian semua. Aku nggak akan menyerah! Semangat! Keep fighting, Penk!

Kalo ada yang mau ngasih masukan, tolong diliat dari sudut pandang remaja, jangan orang tua. Hari ini saya sudah cukup dicekoki sudut pandang orang-orang tua. Terima kasih.

Berasa jadi Elang Mulya Lesmana dkk deh kalo gini! Hidup di masa reformasi tapi atmosfer orde baru! Hahahah..

At last I say, A Velly Intewesting Blog

No comments:

Post a Comment