Sunday, November 22

PERTEMUAN EMOSIONAL

It was great day! Kemarin adalah hari yang harus dicatat dalam sejarah hidupku. Pada akhirnya, semua beban itu bisa aku muntahkan di depan forum guru. Bukan bermaksud mempermalukan atau apa. tapi, kalau itu adalah cara satu-satunya untuk menyadarkan seseorang atas kekeliruannya, why not?

Itu adalah kali pertama aku mengikuti pertemuan dengan guru-guru. Siswa yang ikut bukan Cuma aku, masih ada delapan lainnya sebagai perwakilan kelas masing-masing.

Ternyata ini yah yang namanya pertemuan dengan guru? Itu yang pertama kali terlintas saat melihat hampir semua guru hadir di Laboratorium Multimedia dengan ekspresi wajah mereka masing-masing. Aku melihat, semua menjadi resmi dan kaku. *Secara, biasa ngobrol sama guru-guru tapi nggak pernah ngobrol secara resmi dengan mereka dalam forum seperti ini. Berasa asing satu sama lain, siap melahap mereka yang dianggap tidak sejurus. Siap menyerang siapa saja yang tidak sependapat.

Aku jadi merasa aneh dengan Laboratorium Multimedia atau yang lebih dikenal dengan nama Lab LC, sebuah ruangan yang biasanya sangat familiar buatku. Hampir setiap minggu masuk ruangan itu, bahkan kadang dengan frekuensi yang lebih banyak daripada siswa lain karena terbiasa latihan debat, ngobrol, dan lain hal di ruangan itu. Semoga, pertemuan berjalan lancar. Itu doaku pada awalnya.

Beberapa saat kemudian, saat pertemuan dimulai, aura panas menyelimuti seisi ruangan. Ada guru yang nylemongan (nylemong bahasa Indonesia-ne apa ya?), ada yang diskusi sendiri, yeah seperti siswa pada umumnya. Terlebih, sambutan bertele-tele. But, itulah birokrasi.

Sampai pada akhirnya, diskusi mendengarkan pendapat perwakilan kelas dimulai. Sebagai Mantan Ketua OSIS, Hiska Anggit Maulana mengawali dengan memberikan masukan dan kritik pada guru yang dianggap tidak konsekuen dengan tugasnya di kelas-kelas IPA. Lalu dilanjutkan dengan Risky Aulia Cahyantari mengemukakan KBM di kelas IPA yang kurang efektif dikarenakan ada guru-guru yang terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing. Lalu Kristanti Sitoresmi mewakili kelas IPS menyampaikan masukan tentang pelajaran tambahan pagi hari dan perbedaan perlakuan atau diskriminasi atara siswa yang les dan tidak.

Setelah itu, dimulailah peperangan sengit antara kami, murid IPS dengan guru yang bersangkutan yang kami kritik. Guru itu maju dan mencoba membela diri. Sampai-sampai dia mengungkit kesalahan Esmi dan mempermalukannya di depan forum guru. Lalu setelah guru tersebut selesai, Pak Pono hampir menutup termin itu. Tapi aku mengangkat tangan dan on fire untuk mengemukakan amanat dari teman-teman.

Aku maju dengan diiringi senyum dari beberapa guruku terkasih yang akan selalu ada dan siap mendukungku. *Awalnya ragu, tapi biarin ajalah. Aku selalu total saat akan berperang. Aku mulai mengungkapkan kecurangan guru itu dari mulai member bocoran pada siswa yang les, sampai frekuensi pelajarannya yang lebih banyak diisi dengan tidur oleh yang bersangkutan. Di tengah itu semua, dia tetap ngotot kalau dia benar dan aku yang salah. Oke, saya tidak subyektif, you know? Aku waktu itu mungkin agak nyolot, tapi biarin aja. Toh guru-guru tetap mendukung dan menyuruhku untuk tetap bicara tanpa memedulikan guru itu yang tetap ngotot dengan kekolotannya. Selain dia, ada beberapa guru lagi yang kena kritik dari aku. *Dan sekali lagi, ini tidak subyektif. Anak-anak di kelas pada nulis tentang keluhan selama KBM berlangsung.

Awalnya aku sempet ragu untuk buka-bukaan gitu di depan forum. Tapi ben wae ah! Kalo sampe ada apa-apa sama nilai di rapot, aku bisa lapor ke guru BK atau bahkan langsung ke Kepala Sekolah. Toh, Kepala Sekolah kenal aku.

Tapi, siswa tidak mengikuti rapat sampai selesai. Kami hanya mengikuti kloter pertama tentang keluhan KBM. Setelah itu kami diijinkan meninggalkan tempat. Sebelum keluar, kami diminta untuk bersalaman dengan guru-guru. Oke, why not? Tapi aku dan Esmi sudah sangat bersikeras tidak akan bersalaman dengan guru kolot yang tadi bermasalah dengan kami. aku minta maaf dengan guru-guru yang tadi kena sasaran kritikku. Tapi itu dari anak-anak lain juga loh bu pak, bukan Cuma aku.

Di depan pintu, beberapa guru senior mengiringi aku dan Esmi yang memang tadi sangat On Fire dan hampir menangis (Esmi sih udah nangis). Esmi dipeluk Bu Mukti. Dan aku ngobrol sebentar dengan Bu Endang Suryani, beliau meminta agar kami berjalan lewat pintu belakang karena beliau takut terjadi sesuatu dengan kami. Aku menanyakan kepada beberapa guru tentang ucapanku pada saat maju tadi, dan mereka tidak menganggap itu sebagai sesuatu yang kasar atau berani. “Kita semua keluarga” kata Pak Pono begitu.

Di pintu Lab LC, Bu Mukti nyuruh aku salaman sama Pak Guru yang tadi saya serang *Bukan serang beneran loh Cuma by words and sentences. Aku nggak maulah. Akhirnya setelah dipaksa, aku mau. Tapi ngga pake cium tangan. Ikh najis, seneng banget tuh guru kalo sampe cium tangan segala! Aku udah ngulurin tangan, tapi tuh guru nggak mau salaman, malah udud bae gaweane. Then, I said, “Whatever!” dengan angkuhnya. Eben eben eben! Anda tidak professional, saya tahu itu.

Perjalanan menuju gerbang, aku ngobrol dengan Bu Endang Suryani. Dan untuk pertama kalinya aku setuju dengan Bu Endang Suryani. She said, “Semalu-malunya kalian, saya yakin masih lebih malu dia”. Makasih Bu sudah menguatkan :).

Bu Mukti bilang, “Marilah Pak, kita membuka pikiran. Tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Saya bisa melihat kejujuran dan ketulusan di mata anak-anak. Sampai-sampai mata mereka merah begitu”. She said it wisely. Ya Allah, andai Bu guru yang jadi wali kelasku, bukannya monster tukang tidur itu. Pasti aku akan sangat bahagia dan merasa beruntung. Tapi, walaupun beliau bukan wali kelasku, aku dekat dengan beliau :).

Aku punya banyak Mama di Smansa. Ada Mama Indri, Mama Arief, Mama Mukti, Bunda Tuti. Papa juga punya, Papa Rudi Iteng. Aku sangat sayang kalian semua, guru-guru yang mendukung dan menguatkanku. Forever and ever. *Bukan Cuma para Mama dan Papa yang aku sayang, tapi semua guru yang mendukung kami para siswa. Guru dengan pikiran terbukan yang tidak menganggap diri mereka satu-satunya pihak benar.

At last I say, A Velly Intewesting Blog.

No comments:

Post a Comment