Thursday, November 26

RELATIVITAS

Bukannya mau membela diri, tapi saya rasa apa yang sedang terjadi saat ini sudah tak sehat lagi. berasa dimusuhi sekian guru setelah pendapat controversial saya (Berasa Dewi Perssik apa yah? Hahaha..)

Saya ingin masa-masa terakhir saya di sekolah berkesan, tapi tidak seperti ini caranya. Sudah 2 hari saya tidak betah di sekolah. Hari selasa mentally abuse (Kalo yang ini berasa jadi Manohara) by him. Hari rabu mentally abuse by her. Dan hari kamis mentally abuse by him. Dua diantaranya mengancam saya untuk tidak mengikuti pelajaran. Sudah beberapa hari saya tidak konsentrasi pada kelas dan pelajaran. What the hell yeah?!

Pengen banget rasanya ngamuk atau ngobrak-abrik sekolah (Masya Allah… Anarkise!). Tapi itu nggak mungkin dan nggak akan pernah mungkin. Kecuali setelah itu saya ingin langsung dibawa ke Magelang. Atau mungkin ngebom sekolah? Itu juga nekat. Saya tidak punya bakat se-ekstrim itu. Saya tidak sengetop Noerdin M. Top dan juga tidak mau ngetop seperti dia. Saya Cuma pengen yang biasa-biasa aja.

Kenapa sesuatu yang biasa itu sepertinya sedang sulit sekali didapatkan dalam kehidupan saya akhir-akhir ini? Kalo lagi flat, flat banget. Lebih flat dari Chitato. Tapi kalo lagi berombak, bisa lebih hebat daripada ombak di PAI (Yaiyalah! PAI tah laka ombak’e o!). Ribet nulis pake saya sayaan, pake aku ajalah!

Ada kalanya bener-bener pengen nangis. Tapi giliran udah mau nangis, yang ada malah tersenyum lebar menertawakan diri sendiri. Kadang pas ngobrolin masalah ini sama siapapun, yang ada malah pengen nangis. Jadi, kalau suatu saat kalian mendapati saya menangis saat mengobrol dengan kalian, jangan heran yah kawan-kawan. Karena itu hanya berarti satu hal, dengan menangis aku merasa lebih baik. 

Relativitas waktu, itu pelajaran yang aku dapatkan saat ini. Relativitas waktu hanya mengenai bagaimana kita menikmati hari-hari saat bergumul dengan tawa dan masalah. Dan aku yakin, kebanyakan dari kita merasa waktu berlalu begitu lama saat dengan sengaja atau tidak berhadapan dengan masalah. Dan berjalan dengan sangat cepat sampai-sampai kita tidak menyadarinya saat kita mengalami kebahagiaan.

Aku tahu, tidak ada yang bisa menghentikan waktu. Dan saat bertemu dengan masalah, ingin sekali rasanya aku memutar waktu sampai masalah yang sedang dihadapi secara ajaib terselesaikan dengan hasil seperti apa yang aku inginkan. Dan saat kebahagiaan datang kepadaku, ingin sekali aku menahan waktu agar tidak berjalan secepat itu dan membuat kebahagiaan itu hilang bersamanya.

Tekanan demi tekanan yang aku terima saat ini hanya bisa aku terima dengan lapang dada. Mencoba membesarkan hati dengan mengatakan, “Sabar Penk. Mereka hanya orang-orang tua yang terperangkap dalam paradigma sempit tentang arti perbedaan. Orang-orang tua yang tidak lebih dewasa daripada kamu. Hadapi mereka dan jangan pernah terlihat lemah”
Ya, mereka memang orang-orang yang terperangkap dalam paradigma sempit mengenai perbedaan dalam kehidupan. Dimana justru orang-orang besar mengharapkan kritik, tapi mereka menghindari kritik. Aku tahu, dalam penyampaian aku juga salah. Tapi mau gimana lagi? Suasana, itu kuncinya. Semua orang pada saat itu terbawa suasana yang memanas karena seseorang terlebih dahulu membentak dan berkata dengan nada tinggi kepada kami.

Siapa yang nggak akan terpancing saat melihat orang seperti itu membela diri dengan membuka aib seseorang juga di depan banyak orang. Aku tahu aku Cuma siswa. Dan selama ini, 22 tahun dalam perjalanan dia jadi guru belum ada yang seberani aku. Jadi shock ato gimana mungkin ya pas ada orang yang balik ngebongkar aib. Tapi sumpah, nggak ada maksud kayak gitu. Aku saat itu berpikiran pendek hanya untuk membela seseorang. Saya hanya seorang remaja dengan pikiran pendek yang tidak tahu akibat dari pendapatnya di hari-harinya mendatang. Remaja yang otak, mulut, mata, telinga, tangan, dan kakinya tidak sinkron dalam berkoordinasi. (Ya Allah, kejem banget bahasaku ngatain diri sendiri… Naudzubillahi min dzalik)

Saat guru membentak siswa dan berkata dengan nada tinggi kata-kata yang tidak etis, kenapa itu sepertinya menjadi hal biasa? Tapi saat siswa mengatakan pendapatnya dengan berapi-api, kenapa itu menjadi masalah? Gumun banget gitu. Toh selama ini guru berpendapat, sekalipun yang merugikan siswa, kami siswa tetap menerima dan hanya berani bergunjing di belakangnya. Iya kan?
Heran lagi sama orang yang minta penjelasan, tapi waktu mau dijelasin dipotong-potong mulu. Aku kan jadi nggak bisa ngomong... (T.T) Minta penjelasan, dijelasin malah dipotong, tanya minta jawaban, dijawab dipotong lagi. Kapan aku ngomongnya coba? Terus dikata aku yang salah gitu. Haduh, nyebuuuuuuutttt... Akhirnya aku cuma diem dan sesempetnya, dan juga meralat omongan-omongan dia yang salah.

Lagipula apapun yang aku katakan, nggak akan ngerubah persepsi dia tentangku. Aku ngejawab dengan cara sebaik apapun, pasti tetep respon buruk yang aku terima. Mending diem aja kan sambil ngeralat-ralat omongan dia yang salah? (Nah kalo ini, berasa jadi guru Bahasa Indonesia yang lagi nilai muridnya pidato)

Someone said that we had to be honest when we were talking at that forum. Itu basa-basi yah? Hikmah yang bisa dipetik, “Jangan pernah bicara terlalu jujur dalam sebuah birokrasi. Jangan terlalu vocal dan kritis. Karena pada akhirnya andalah yang akan kritis. Anggap ucapan itu sebagai angin lalu dan kalau perlu dalam sebuah forum, yang ada hanya pujian dan pujian. Jadi, tidak akan ada ujian dalam hidup anda”

Apa salah bunda mengandung sih, kok semua jadi serumit ini? Aku udah diincer berapa guru ya… “Kejujuran itu pahit, vel” gitu kata Bu Nursecha. Kalo nggak mau yang pahit, lebih baik aku terus memuji orang dan menjerumuskannya. Hah! Entar aku ditaburin debu lagi kalo muji-muji orang mulu.

Pusing sumpah! Udah berapa pelajaran aku sama sekali nggak konsen. Ini semua mulai merusak hidupku dengan SUCCESS!

Banyak yang bilang, aku berubah. Ternyata selama ini orang melihatku sebagai pribadi yang periang. Dan dalam sekejap menjadi orang yang bicaranya nggak sebanyak biasa. Frekuensi senyum berkurang. Pengennya ngunci mulut terus. Tapi saya kan butuh bersosialisasi, berdiskusi, berekspresi, mengeksplorasi dan mendeskripsi mengenai seseorang atau sesuatu. Haha, maksudnya adalah ngobrol dan nggosip! :D

Semangat Penk! Setiap saat aku teriakkan. Saat hampir nggak kuat lagi nahan beban, saat sendiri terdiam dalam lamunan, saat hampir menitikkan air mata, setiap saat. Jangan sampai ini merusak hidupmu yah, girl! “Tetap jadi Penk yang kayak biasa” gitu kata Rora.
I love you all. Semoga berlalu dengan cepat. Dan saya kembali menjadi manusia biasa seutuhnya! Soalnya sekarang lagi merasa tidak biasa. Saya cinta hidup saya yang biasa-biasa saja. datar-datar aja juga nggak papa. Yang penting halal.

Terima kasih kepada mereka yang sudah lepas tanggung jawab dan sekali maen bureng dengan apa yang terjadi pada saya. Ingat, kalian juga ambil bagian dalam ini semua. Berhentilah jadi manusia pengecut yang hanya bisa bicara di belakang. Berhetilah jadi pecundang yang lepas tangan saat diminta tanggung jawab. Saya muak dengan kalian. sekali lagi terima kasih, kalian adalah ksatria yang mendorong saya ke dalam juang secara beramai-ramai.

Saya sedang ingin menjadi manusia selfish yang mencoba menutup mata dengan apa yang terjadi di sekitar saya. Tapi saya pesimis bisa melakukannya.

At last I say, A Velly Intewesting Blog.

No comments:

Post a Comment