Monday, December 14

MENUJU PUNCAK

Menuju puncak gemilang cahaya, mengukir cita seindah asa
Menuju puncak gemilang di hati, bersatu jadi kawan sejati

Itu lirik lagu AFI (Akademi Fantasi Indosiar). Inget???

Wait, tapi bukan itu yang aku maksud dalam postingan kali ini. Tunggu sebentar, tarik positif... keluarkan negatif... tarik positif... keluarkan negatif... Selesai.

Gatau yah, mungkin hari ini adalah puncak dari rasa penat, rasa kesal, rasa kesel, rasa pegel, rasa lelah, rasa letih, rasa lesu, dan rasa-rasa tidak mengenakkan lainnya. Kalo yang satu ini bukan hanya aku yang merasakannya, tapi juga teman-teman yang lain.

Satu hal yang ada di pikiranku sekarang. Kenapa dia ngasih tugas kok serasa lagi balas dendam yah? Nyiksa banget gitu. Mbok kalo misalkan sedang berperan sebagai seorang pengajar, singkirkan semua ego yang ada. Kalo dianya juga gitu, gimana akhirnya semua akan berjalan efektif? Semua hanya akan sia-sia karena yang ada diantara kami dan dia hanya rasa dendam, benci atau kesal.

Ironis melihat ini semua.

Aku rasa hari ini kami merasakan titik kulminasi dimana kami merasa muak dengan semuanya. Sebuah titik balik yang membawa kami pada satu pikiran yaitu Terserah.

Kami hanya bisa menerima karena kami tidak memiliki otoritas apapun dalam kegiatan belajar mengajar. Apalagi mengingatkan, bertanya saja sepertinya sudah diharamkan olehnya pada kami. Selalu saja begitu.

Bukannya apa-apa, kadang ada sesuatu hal yang perlu kami tanyakan tentang sesuatu. Tapi sebelum kami bertanya, dia sudah serta merta bilang terserah kami. Oke, kalo seandainya kami benar-benar melakukan apa yang kami kehendaki secara kompak, apa yang akan dia perbuat? Marah-marah lagi? Atau mbengok-mbengok lagi? Atau mungkin mengeluarkan kami dengan bentakan keras?

Apa yang bisa dia lakukan saat kami menghimpun kekuatan dan melakukan apappun yang kami inginkan? Dia bisa apa?
But, itu semua hanya SEANDAINYA. You know lah..., aku juga udah trauma berkepanjangan gini.

Siapa juga yang mau berurusan sama dia lagi? Udah cukup ye. Masalah dulu aja belum kelar. Secara formal sih udah kelar, tapi masalah hati who knows? Aku aja belum ikhlas kok minta maaf ke dia pas dulu itu. Ikh, tetep najis deh kalo inget itu.

Merasa sangat konyol. Hah, Tuhan..., sebenernya yang anak kecil tu aku apa dia ih? Kok kayaknya hebohan dia ya? Kalo aku kekanakkan sih fine aja, kan secara umur gitu yaaaa. Kalo dia? Gak malu sama umur? Hah!

Bener juga kata Ell, sampe tujuh jilid juga nggak bakalan kelar ngomongin tuh orang. Setujuuuuuu!

Kemaren pas study club di rumah Yolanda, aku tanya ke temen-temen disana. "Kira-kira, kalo terima rapot, orang tuaku dibilangin apa yah sama dia???" itu pertanyaannya.

Dan aku baru tahu satu kenyataan. Pas dia ngusir aku dari kelas, dia bilang, "Anake sapa sih wani nemen kakay kuwe? Anake walikota? Apa anake pejabat?". Kurang lebihnya sih gitu, tapi aku kurang tau juga dia bilangnya gimana. Soalnya pas itu kan aku diusir, jadi nggak tahu menahu apa yang terjadi di kelas.

Dan seketika aku berpikir, Jadi kalo aku anak pejabat, aku boleh berani ke dia? Kalo aku anak walikota, aku boleh kurang ajar ke dia?.

Picik banget nggak sih menilai ukuran keberanian orang dengan bernegatif thinking orang itu punya back up kuat di belakangnya? Katanya guru santri, tapi kok tetep menilai dengan duniawi dan materi?

Huh, kalo aja dia tau... Abahku itu kayak seorang pengangguran. Setiap hari pekerjaannya cuma maenan burung dara, pagi sama sore. Aku aja kalah dimanja sama dara-daranya abah. Aku punya seorang abah yang nggak bekerja dengan seragam resmi seperti kebanyakan ayah yang kalian miliki.

But, apapun itu, aku tetep bangga dengan abahku. Aku nggak perlu ngasih tau apa perkerjaan abahku lah. Lagian nggak ada relevansinya juga sama apa yang dibicarakan disini. Yang penting, dia bukan garong ato maling ato apapun. Judule halalan toyibah. He's my hero. Everlastng hero for me, my life, and my family.

Back to puncak.
Sabtu aku terima rapot. Mbuh, aku udah cukup putus asa dengan hasil rapot entar. Hasil apapun yang dapat nanti, sepertinya hanya akan aku hadapi dengan keapatisan. Mungkin itu satu-satunya cara agar aku tetap bertahan di tempat yang luar biasa hebatnya ini.

Jangan salahkan tempatnya. Jangan ikut-ikutan jadi manusia konyol seperti orang-orang tua itu yang hanya bisa menyalahkan tempatnya. Salahkan orangnya. Buat apa juga nyalahin benda? Emang kalo disalahin tu benda bakal memperbaiki keadaan?

Puncak puncak puncak, menuju puncak dengan tertatih. Langkah kaki yang tak lagi sekuat dulu. Dengan pertahanan seadanya mencoba melalui setiap badai kehidupan yang menghadang. Aku takut, ya, aku takut. Tapi, sepuluh tahun lagi, ini akan bisa menjadi sebuah cerita indah yang akan memberiku pelajaran seumur hidup.

Like someone said, then raise the level a bit higher so that u will not reach it, thus reduce your tolerance.

Tau maksudnya?

Maksudnya adalah gini, semakin seseorang bisa mengontrol emosinya, maka semakin ia bisa memiliki rasa toleransi yang besar pula. Misalnya toleransi kamu sekarang di kisaran angka 3, dan tingkat stabil itu angka 7 atau 8. Kamu harus bisa mencapai itu agar bisa mengontrol diri sendiri. Dengan seperti itu, maka kamu akan lebih bisa merasakan dan memikirkan apa yang orang lain rasakan sebelum kamu bertindak sesuatu kepada orang lain. Sekali kamu nggak bisa mencapai level stabil, maka dikhawatirkan nggak akan pernah bisa mencapainya.
Jangan kuatir, tingkat toleransi itu akan bertambah seiring dengan kemampuan kita mengontrol emosi.

Gak ngerti siang ini nulis apaan. Nggak jelas banget.

Oh iya, kemaren ada tugas seabrek-abrek! Aku aja sampe kerja rodi sama sistersku. Dalam satu buku, ada 3 bentuk tulisan. Mbuh bae, judule ngumpulna. Pelajaran apa coba tebak? AKUNTANSI!. Damn!

Pegel tanganku. Abis nglembur semaleman, walopun udah dibantu tapi tetep aja pegel. Thanks for my sisters. You're so helpful! Love you both...

At lat I say, A Velly Intewesting Blog.

No comments:

Post a Comment