Tuesday, December 1

EPISODE TERAKHIR, TAPI BUKAN AKHIR

Sorry baru sempet posting. Padahal kemaren ada something yang harus diceritain, tapi karena terlalu sibuk, jadi baru sempet hari ini deh!

Oke. Hari itu adalah episode terakhir dari rangkaian panjang sinetronku. Hari itu aku merasa lebih tua dari orang-orang tua. Hahahaha!

Hari itu Senin 30 November 2009, aku rasa sinetron ini telah menemui episode terakhirnya. Dengan sebuah episode panjang yang berakhir di ruang guru. Tangis, tawa, tekanan, kekesalan, amarah, dan berbagai rasa yang bahkan aku tidak tahu namanya; aku harap menghilang bersama cerita yang mengiringi.

Hari itu aku dan Esmi meminta maaf *lagi di forum guru*. Tapi bukan minta maaf dengan mencabut omongan. Bukan. Hanya meminta maaf atas cara kami dalam penyampaian di forum guru yang lalu. Tapi aku rasa itu sudah cukup mendinginkan keadaan.

Dan disaat itu, aku telah mencoba merelakan semua. Mencoba belajar tentang keikhlasan. Mencoba belajar tentang kedewasaan dan proses pendewasaan. Mencoba belajar tentang sesuatu yang tidak semua orang bisa memahaminya. Intinya ini semua adalah proses pembelajaran menuju aku yang lebih baik.

Huft. Menghela nafas untuk sesaat dan mencoba kembali menata hidup yang cukup terkena pengaruh peristiwa ini. Pengaruh yang tidak kecil. Pengaruh yang bisa mengubah pribadiku. Aku juga kurang tahu kenapa ini semua bisa mengubahku sedemikian rupa. Tapi satu hal yang pasti, Aku merasa sedikit lebih lega.

Hari ini adalah hari ini. Aku tidak tahu dan tidak akan pernah tahu apa yang terjadi besok. Jangankan besok, lima menit kedepan pun aku tidak tahu apa yang akan terjadi.

Sekian detik setelah aku dan Esmi keluar dari ruang guru, sekali lagi Esmi menangis. Aku nggak tahu apa yang harus ditangisi. Karena mungkin sekarang aku tidak sepeka dulu. Kami kembali ke kelas dan mencuci tangan kami karena tadi telah bersalaman dengan Him. *Hahaha, ceritane waktu itu masih belum ridho*. Setelah mencuci tangan, kami mengusapkan antiseptic ke tangan kami agar steril *setelah kontaminasi :D*

Lalu Esmi kembali ke kelasnya dan aku kembali ke kelasku, bersiap untuk pulang ke rumah dan mengakhiri siang itu dengan tidur siang.

Selanjutnya, aku minta anter Twins untuk meminta maaf ke Mr. ST karena tadi dia tidak hadir di ruang guru saat aku meminta maaf. Yang terjadi adalah, saat aku megulurkan tangan, dia tidak menjabatnya dan ngacir ke kelasku. Karena waktu itu pelajaran dia. Tahukah kalian apa yang terjadi di kelas?

Dia ngamuk! Ya ampuuuuuuunn…. Jadi mendadak tekanan batin lagi saya denger dia ngamuk. Ngamuknya itu gara-gara apa aku juga kurang tahu. Akhirnya aku sms Mami dan beberapa saat kemudian Mami telpon. *Maaf Mih, aku nutup telpon paksa soalnya Pak ST ngamuk’e medeni. Berkobar-kobar kayak orang kobongan gitu*

Hahaha, dan disela amukan orang, saya dan Mayang masih punya waktu untuk merasa fun dan enjoy mendengarkannya. Kami menghitung seberapa banyak Pak ST menutup omongannya. Maksudnya tuh gini loh, kayak penutupan di akhir pidato tapi ujungnya tetep ada aja yang diomongin. Dan kami menghitung 4 kali dia menutup pidatonya tapi tetap tak berujung. Dan akhirnya penutupan yang terakhir adalah tanpa kalimat penutup. Berarti keseluruhan ada 5 kali penutupan. Iya gak May? Hahahaha, pengangguran!

Dia ngomong dari jam 12.35 sampai 13.25an. Padahal janjinya nggak sebanyak itu. Waktu kami terbuang dengan sia-sia. Tapi anehnya, dia nggak ada pas dikritik dan nggak ada juga pas dimintain maaf. Dan kenapa sepertinya apa yang sampai pada dia adalah cerita berbumbu yang bumbunya terlalu banyak sehingga menimbulkan keresahan pada saya selaku orang yang mengkritik dan tahu benar apa yang saya sampaikan. Dan satu lagi hal yang membuat saya resah adalah anggapan beliau bahwa “Orang mengkritik karena BENCI”.

Hello!? Kok pola pikirnya kayak anak kecil ya? Padahal kan udah 35 tahun mengajar yah Pak? Kok mikirnya sependek itu to?

Mana tadi pas pak itu keluar dari kelas abis ngamuk-ngamuk, ada anak sok pahlawan yang ngejar-ngejar pak itu mau minta maaf gitu. Hell ya?! Kalo mau sok pahlawan, harusnya waktu itu kamu nggak bilang “Pokoknya kalo ada apa-apa aku nggak ikutan loh, Vel!”. Pahlawan banget yah ternyataaaaa~~

Mulai hari ini aku mau belajar apatis *Mungkin lebih tepatnya mempraktekkan ke-apatis-an saya*. Karena saya capek menjadi tumbal dari orang-orang yang ternyata adalah pengecut kelas kakap. Tenang, apatisnya cuma ke orang-orang tertentu aja kok, ato mungkin ke kelompok-kelompok tertentu? Ya begitulah.

Mungkin kalo pada saat di forum aku menyampaikan keluhan anak-anak sesuai dengan apa yang mereka tulis di kertas, hasilnya adalah akan lebih hebat dari sekedar amukan. Karena bahasa yang dipakai di kertas itu benar-benar menyakitkan.

Ah, biarlah. Toh, aku nggak mungkin akan terus-terusan mengenal para pengecut itu.

Oh iya, di sekolah hari itu ditutup dengan tawa lebarku, Esmi, dan Twins bersama Mami Emwe, Bu Alifah, Pak Wakhidin, Bu Nursecha, dan beberapa guru lain di ruang guru. Hm, nggak nyangka ternyata aku punya guru-guru yang begitu humoris dan friendly pada murid seperti kami.

Mami, kutunggu makan-makannya atas kelarnya kasus ini! Hihiyyyy……. :D

Aku salut banget sama Bu Eli Jamilah yang setelah ta kritik di forum jadi malah 100 kali lebih baik ke aku sampe ngikut ndukung aku. Tadi Pak Bareston juga sampe mau bikin Tim 5 *Mirip Tim 8-nya Bibit-Chandra*. Dan hebatnya lagi, Bu Eli Jamilah ikutan jadi anggota Tim 5 itu. Keren banget nggak sih?! Sampe Bu Eli ngebelain di depan kepala sekolah. I Love U, Mami Eli!

Thanks to Allah SWT, Kedua orang tua dan keluarga, teman-teman seangkatan yang mendukung saya, teman-teman facebook, blog dan facebook, dan semuanya yang nggak bisa disebutin satu-satu.
Special Thank to Mr. Agus yang udah give Thumb Up pas tadi di ruang guru sebelum aku maju minta maaf. Itu sangat membantu psikologis saya loh, Pak.

Thanks to guru-guruku sayang yang udah mendukung >> Mami Emwe, Mami Arief, Mami Indri, Bu Susi, Bu Suci, Bu Eli Jamilah, Bu Nursecha, Bu Alifah, Pak Masduki, Pak Pono, Pak Bareston, Pak Henoch, Pak Wakhidin, Pak Rodiyanto, Pak Edi, Pak Broto, Pak Mothofik, Pak Agus, orang-orang TU, dan pokoknya semua guru yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Entah itu guru IPA ato IPS, saya berterima kasih banyak karena dukungan dan motivasi kalian. I love U full.

Dan untuk para korban *Ahahahahahay…! Bisa korban loh!*. Aku udah minta maaf loh. Jangan perpanjang masalah ini dan jangan lebay. Kalo sampe nanti ada apa-apa sama nilai ato apapun, saya lapor kepsek ato BP loh! *Eh, tapi apa yang bisa mereka lakuin? I think nothing. Hummmm....*

Thanks for the readers and At last I say, A Velly Intewesting Blog!

No comments:

Post a Comment