Friday, December 11

YES, I AM

How can something changes people deeply? Bahkan sampai akar-akarnya. Yah, now I know how it feels. Aku telah berubah, itu kesimpulan hari ini. I'm not changed magically, but something changed me. And that thing called PROCESS.

Aku nggak tahu gimana cara mengatakannya, it's so hard to do. Yang bisa aku lakukan hanya menuliskan apa yang aku rasakan. Aku tidak mau merepotkan orang lain dengan masalah-masalahku. Apapun itu, sangat sulit untuk menceritakannya secara lisan pada orang-orang di dekatku. Tahu kenapa?

Aku takut, aku malu, dan aku akan sangat menyedihkan saat aku menceritakan hal ini. Aku takut mereka tertawa karena kekonyolanku. Aku malu, bahkan pada diri sendiri. How can something like this change me deeply? Memalukan.

Ya, setelah rangkaian panjang sinetron emosional season satu itu, aku merasakan banyak sekali perubahan. Perubahan yang hanya aku yang bisa merasakannya. Bukan kamu, dia, mereka, atau kalian. Hanya aku.

Hari ini, aku tidak pernah segemetaran itu mendengar sebuah kalimat atau kata. Bahkan bentakan atau teriakan tidak juga membuatku sedemikian rupa seperti halnya aku mendengar hal itu. Actually, it was just a very simple word. Kritik.

Aku nggak tahu kenapa bisa sedemikian gemetarnya mendengar kata itu. Aku takut. Dan seketika aku merasakan perubahan.

Ya, aku baru menyadarinya hari ini. Beberapa saat lalu. Saat seorang guru meminta kami menuliskan masukan, tanpa identitas, dan menuliskan apapun yang kami rasakan. Oke, sounds so simple. But, it's extremely hard to do, for me especially.

Ah, mengingatnya saja sudah membuatku pusing sampai harus menahan air mata. I'm strong and unbreakable. Sekali lagi menguatkan diri. Tapi aku rasa itu sekarang sedikit percuma.

Haha, aku merasa sangat menyedihkan. Hanya tersenyum simpul meneertawakan kekonyolan diri sendiri. Kenapa setelah dengan tegar melewatinya, aku jadi trauma seperti ini mendengar kata-kata itu dan berbagai macam sinonimnya? Kenapa begitu mudahnya aku dipermainkan kata-kata itu?

Ditemani sekian lagu melankolis yang semakin membuatku merasa semakin menyedihkan. Ya, it's me now. Aku yang sama sekali tidak pernah membayangkan akan memiliki masa SMA yang mengerikan, traumatik, dan juga mengesankan.

Haha, why do I have to cry again and again face this problem? Anyone should solve it for me?

Tawa itu sama sekali tidak membantu. Oke, membantu untuk beberapa saat melupakan semuanya. Tapi hanya sesaat. Aku seperti terkoyak (ceile bahasaneeee). Ya, aku rasa semua ini akan kembali membawaku ke sebuah masa dimana semua serasa gelap.

Bahkan aku sendiri nggak tahu apa sedang terjadi sama aku. Aku kosong! Aku nggak lagi mengenal aku! Kemana aku yang kuat? Kemana aku yang nyolot? Kemana aku yang menganggap semua masalah sebagai hal yang mudah untuk dilewati? Mana aku yang berpikir yang penting hore? Kemana? Kenapa aku jadi gini sih?! Kenapa Vel?

Ya Allah... I have no words to say expect Help me! Force me to be strong!

Hm, aku rasa ini tulisan paling menyedihkan dari aku. Kacau.

No comments:

Post a Comment