Saturday, January 9

TEGALISME

Sekali lagi, aku nggak tahu harus nulis apa. Sekali lagi, ini hanya sebuah pemikiran yang aku harap kalian juga merasakan sama seperti apa yang aku rasakan. Bagi yang mau suka, terima kasih. Dan bagi yang tidak suka, itu terserah kalian. Sebenarnya untuk yang satu ini hanya masalah kesadaran diri aja sih.

Aku nggak tahu apa aku yang terlalu sensi atau terlalu cinta sama Tegal. Yang pasti, aku sangat tidak suka saat ada orang yang menjelekkan Tegal. Aku sangat tidak suka saat orang mulai lebay mengucapkan dialek Tegal. Padahal mereka sama sekali nggak tahu apa itu Tegal dan bagaimana itu Tegal.

Jujur, awalnya aku mau nulis posting kali ini dengan bahasa Tegal lengkap dengan semua apa yang orang ingin dengar dan ingin ketahui tentang bahasa Tegal yang mereka bilang NGAPAK DAN MEDHOK! Tapi, berhubung yang mbaca bukan Cuma orang pribumi Tegal, jadi aku nulis dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang merakyat. Lagipula tulisan ini juga request dari beberapa orang, jadi aku publish-in.

Dimulai saat terjadi obrolan ringan di rumah Pep yang berujung pada tawa riang kami karena cerita-cerita kami tentang anggapan orang-orang kenalan kami tentang Tegal. Pep yang sepupunya bilang ke Bandung ke temen-temennya padahal dia ke Tegal. Rora yang temennya keheranan karena tahu di Tegal ada KFC. Dan temenku di Singapura yang tahu Tegal sebagai sebuah Kampung.

What the hell with you, people?! Emang apa sih yang ada di pikiran kalian saat mendengar kata Tegal? Apa Tegal dimata kalian sebegitu mbleseknya sampe kalian beranggapan seperti itu? Apa menurut kalian Tegal adalah sebuah kota dimana tanahnya tandus, nggak ada air, rumahnya masih beratapkan daun kelapa, dan jalannya berbatu-batu sampai hanya kudalah satu-satunya alat transportasi yang selalu kami andalkan?

Aku yang bodoh atau mereka yang terlalu bodoh sih? Udahlah, nggak perlu muluk-muluk dulu ngomong tentang Nasionalisme. Sekarang coba uji kesadaran kalian sendiri tentang tempat dimana kalian tumbuh dan berkembang. Sebuah tempat yang lingkupnya sangat lebih kecil sekali jika dibandingkan dengan sebuah negara.

Bukannya apa-apa loh sodara-sodara, aku hanya kesal saat ada orang Tegal yang malu pada kota tempatnya tumbuh dan berkembang. Rasanya aku pengen banget mbedah otak orang itu dan ngeliat isinya.

Jujur aku jengkel kalo ngeliat HOMETOWN temen-temen facebook yang asli Tegal tapi ujug-ujug bisa nyasar nyampe mana gitu. Ada yang tiba-tiba Jogja, Semarang, Jakarta, Bandung, dan lain-lain. Bukannya gimana-gimana, cuma aneh aja. Kalian sekolah di Tegal, makan di Tegal, sakit di Tegal, ngupil di Tegal, nafas di Tegal, tidur di Tegal, lahir di Tegal, dan banyak lagi aktivitas yang dilakukan disini ketimbang di tempat asal orang tua kalian yang biasa disebut tanah kelahiran.

Aku mah orang tua dua-duanya dari Tegal ya Tegal aja, tulen, nggak kotaminasi mana-mana. Tegal ya Tegal aja, nggak pake ngarang.

Maaf kalo mungkin tulisan yang satu ini membuat kalian tersinggung, tapi aku memang harus menuliskannya. Aku bingung pada keberadaan bahasa Tegal yang katanya NGAPAK DAN MEDHOK itu. Aku rasa, remaja dan orang-orang disini nggak se-NGAPAK DAN se-MEDHOK seperti yang di-ekspos di televisi. Oke, ada yang NGAPAK DAN MEDHOK, tapi liat dulu itu darimana. Sebagai Tegal Kota, saya sangat kesal. Nggak gitu-gitu amat kok!

Jangan cuma bisa mengekspos atas apa yang kalian liat. Kalo udah basah, nyebur aja sekalian darisitu baru tahu bagaimana sesuatu itu sebenarnya.

Sebenernya itu pada kagum apa gimana sih sama Tegal tuh artis-artis? Ada yang namanya bawa-bawa Tegal segala, serba Tegal lah!

Rora, Pep, dan Aku sangat tidak setuju saat kami membaca majalah dan melihat sebuah profil salah satu rapper yang sedang naik daun tentang kenapa memilih nama dan karakter seperti itu. Ironis, aku hanya bisa bilang seperti itu. Dengan mudahnya mereka bilang itu semua karena mereka melihat tukang ojek, tukang ini itu, dulu sering makan di warung Tegal juga, terus yang paling miris adalah pembantu dia juga dari Tegal. Argh! Kok ngeliatnya orang-orang yang kayak gitunya to? Ikh, pengen ngelempar slender ato truk gandeng gitu ke mereka! Berasa apa gitu?!

Terus juga karakter mereka, ya ampun norak banget! Kayaknya orang Tegal juga nggak gitu-gitu amat deh! Ngomongnya nggak gitu, dandanannya juga nggak gitu! Itu sih norak! Kecuali Anda sudah bertahun-tahun hidup disini dan mengenal dengan pasti seperti apa kota ini dan orang-orangnya, Anda berhak seperti itu. Tapi, argh! Speechless tau gak!

Kalo aku Pak Ikmal Jaya mungkin tu rapper udah aku kirimi surat suruh ngerubah nama gitu, ta amuk, ta somasi, ta tuntut, ta ganyami, diuwes-uwes pokoke. Gak terima lah! Kayaknya itu membuat Tegal dimata Internasional menjadi semakin mblesek! Hih, juwet aku!!!

Yang terakhir adalah aku sebel kalo ngeliat orang-orang sini yang pake gue-gue-an! Aku nggak tau kenapa. Apa ini pergeseran kebudayaan? Bahasa Indonesia udah digantiin Bahasa salah satu daerah ya? berasa keren ato gimana kalo pake gue-gue-an? Nulis status pake GUE, wall pake GUE, serba GUE kabeh lah pokok’e! Padahal cukup banyak dari mereka yang gitu dalam kehidupan nyata aku sangat tahu akan sangat wagu saat harus ngomong GUE-GUE an. Mbok pake AKU aja gimana sih?

Ya Allah… Maaf banget kalo ada yang tersinggung. Dan aku yakin banyak diantara kalian yang pengen ngelempar pintu ke aku pas mbaca ini. Kalo itu memang style kalian, pertahanin aja. Toh, ini hanya sebuah tulisan yang sedang menguji kesadaran sodara-sodara. Aku sangat berharap kalian bisa berkomentar atas ini. Kita lihat seberapa kadar kesadaran kita terhadap lingkungan terdekat kita.

Tegal tidak sesempit apa yang ada di pikiran kalian.

At last I say, A Velly Intewesting Blog.

No comments:

Post a Comment