Monday, February 1

AKU NGGAK PAHAM INI

It's cloudy, almost rain. But I love staying alone at school, in my most comfortable place.

Untuk satu hal, aku nggak paham dan mungkin nggak akan pernah paham kecuali aku terjun di dalamnya. Ini masalah pendidikan.

Aku memberanikan bicara tentang masalah berat seperti ini karena memang sedang tidak merasa nyaman dengan pendidikan di negeri sendiri. Entah itu dengan aparat pendidikan, kurikulum, segala macam sektornya, aku sama sekali nggak ngeh.

Kadang serinng mengkhayal dengan teman-teman atau sendirian, kalau kami sudah berhasil nanti, kami ingin punya lembaga pendidikan (tapi bukan bimbel ya). Lembaga pendidikan yang bisa membentuk seseorang yang benar-benar membutuhkan porsi pendidikan untuk menunjang cita-cita atau apapun masa depan yang ia inginkan.

Pendidikan itu apa sih? Aku risih kalo ada orang sok yang mulai ceramah tentang pendidikan dan segala macam tetek bengeknya, tapi apa yang ada di lapangan sama sekali bertolak belakang dengan apapun itu yang dia jelaskan. Dengan mudahnya mulai menguliahi kami murid-murid yang sama sekali buta dengan pendidikan. Ingin rasanya menyela setiapomongan yang keluar dari mulut orang-orang itu.

Oke, sekarang aku kelas 12 dan dalam kurun waktu kurang dari 2 bulan akan menghadapi apa yang dinamakan Ujian Nasional. Kenapa harus UN? Dalam berbagai macam Lomba Debat yang aku ikuti, motion ini terus sajamuncul tiap tahunnya. Menjadi motion rutin dalam setiap lomba debat.

Setiap hal punya dua sisi, begitu juga UN, right? Kita bisa membiarkannya menjadi sebuah kontroversi rutin yang muncul tiap-tiap tahunnya atau mengambil suatu kebijakan yang tidak merugikan pihak manapun.

Hari ini ada sebuah gagasan baru di kelas Sosiologi. Season dua sedang break dan sepertinya hari ini aku bisa menikmati pelajaran itu dengan lega. Hari ini aku duduk dengan Cici Elisabeth karena Mirna sakit. And you know, guru itu manggil aku dengan nama apa??

W A L U Y A T I

atau

V A R I Y A T I

Oh my gosh, sangat tersiksa kalo denger orang nyebut namaku salah-salah gitu. Nama udah singkat dengan ejaan yang tidak neko-neko tetep aja salah menyebutkan.

Back to the topic

Tadi aku ngobrol dengan temenku dari Malaysia tentang pendidikan disana. Fyi, Malaysia adalah negara persemakmuran Inggris, tapi emang nggak sedahsyat Australia. Mereka yang memang memiliki koneksi dekat dengan Inggris juga tidak terlalu royal masalah pendidikan.

Maksudnya gini, di Malaysia hanya ada 9 mata pelajaran. They are English, Malay, Science, Math, History, Geography, Moral, Art, Life skills.

Dan aku harus bilang, AKU NGIRI SAMA MEREKA!!!

Kenapa pelajar di Indonesia dipaksa untuk belajar sekian puluh pelajaran. Bellum lagi, dari sekian puluh pelajaran itu, setiap pelajarannya minta dianggap penting dan dipentingkan lebih dari pelajaran apapun. Ada yang minta diprioritaskan melebihi pelajaran apapun. Ada yang merasa penting atau mungkin membuat dirinya penting. Ada juga yang akhirnya harus mengalah karena tidak dianggap penting.

Itulah pendidikan kita. Padahal waktu aku tanya salah satu guru, katanya sistem pendidikan kita mengacu pada Cambridge. Fyi, Cambridge itu kayak Kota Pelajarnya Dunia. Tapi aku belum sempet tanya temenku yang kuliah disana. Maybe later kalo dia online, aku bisa tanyain.

Kalo menurut aku, nggak perlu lah kita mengacu pada sistem pendidikan yang muluk-muluk. Kenapa nggak nyoba dulu kayak Malaysia dimana membuat mata pelajaran IPA dan IPS akur?
Satu sisi mereka mempelajari Geografi, tapi di sisi lain, mereka juga mempelajari Ilmu Alam.

Waktu aku tuker pikiran sama temenku di Malaysia, dia cuma tanya sesuatu yang sangat simpel tapi aku nggak bisa jawab. Apa coba???

Pertanyaannya adalah >> how to do simple electrical work, woodwork etc??
And jawabanku adalah >> I don't know and never know about that.

Miris gak tuh??? Manja banget kan bangsa kita?

Belum lagi kalau harus membandingkan dengan China. Aku punya cukup banyak temen disana, dan aku sempet tanya-tanya tentang kuliah disana.

Hampir semua orang disana sangat sadar dengan pendidikan. Kebanyakan dari mereka bahkan rela berdesakan dalam satu kelas yang isinya menurutku sih sangat kelebihan muatan. Bayangin deh, dalam satu kelas universitas ada lebih dari 60 siswa. Betapa penuhnya. Bahkan sampai dosen pun nggak hafal nama murid-muridnya. Murid yang tidur di kelas sampe nggak kelihatan saking sesaknya.

Bagaimana dengan Indonesia? Bandingkan sendiri ajalah. Aku nggak perlu menjabarkan satu er satunya.

Bahkan tadi aku sempet mikir, kenapa sistem pendidikan di Indonesia nggak berkiblat ke Malaysia aja ya? Selain sistem disana sudah bagus, jaraknya juga nggak jauh. Jadi bisa dengan mudah melakukan observasi dengan dana yang lebih sedikit. But, inget harga diri dong! Masa mau berkiblat ke Malay sih?! Hahahaha~

Oh iya, satu lagi. Pak Guru Sosiologi sangat menggebu-gebu saat bicara tentang nilai UN. Beliau nggak pengen kami kebalap sekolah lain. Beliau berpikir nantinya akan ada sekolah yang merasa menang dan kalah.

Tapi buatku, pendidikan bukan tentang menang dan kalah. Oke, it's all about competition. Dalam sebuah kompetisi pasti ada yang menang dan kalah, tapi tidak pada pendidikan. Pendidikan ada untuk mendidik manusia kan? Pendidikan bukan untuk menyatakan menang dan kalah kan?

Aku ngiri deh sama anak-anak Malaysia yang dapet pelajaran moral. Pada ngiri nggak? Aku sih jujur, ngiri banget.

I think that's all,
At last I say, A Velly Intewesting Blog.

No comments:

Post a Comment