Saturday, February 20

Final Exam

Oke, setelah sekian hari bingung mau nulis apa. Akhirnya pagi ini aku menemukan sesuatu untuk di-sharing-kan. Sebenarnya ini hal negatif yang sangat tidak pantas untuk dicontoh oleh siapapun. Dan kalopun terpaksa melakukan hal ini, aku rasa harus dibawah pengawasan orang tua atau ahlinya.

Finally, some moments ago I found the negative side of The Final Exam. Fyi, Final Exam memang selalu dianggap sebagai sesuatu yang negatif oleh sebagian besar pelajar di Indonesia.

Apapun itu bentuk argumennya, UAN selalu dianggap sesuatu yang negatif oleh sebagian besar pelajar Indonesia.

Alasan pertama,
paling klise, dan paling sering diungapkan adalah Ketidakadilan. Kenapa bisa dengan mudahnya menggembor-gemborkan tentang ketidakadilan? Apa sih arti dari Keadilan dan Ketidakdilan itu sendiri?

According to Mr. Ali Arifin (Guru Pendidikan Agama Islamku), "Adil adalah menempatkan sesuatu yang seharusnya, pada tempatnya". Mungkin menurut pemerintah yang adil untuk para pelajar adalah Final Exam. Dan pemerintah pasti juga sudah menimbang segala macam sebab-akibat positif dan negatif dari keputusan yang mereka ambil.

Wait, jangan dulu menilai kalau aku setuju UAN. Yes, as a student, aku masih 50:50 sama UAN. Saat melihat suatu alasan positif, aku bisa menyetujui, dan saat menyadari alasan negaifnya, aku bisa juga menolaknya mentah-mentah. Oke, memang terkesan plin-plan. Tapi, nggak papa kan? Toh, hanya satu suara mempengaruhi. You know, I’m nothing. Pendapatku aku rasa nggak akan mengubah apapun.

Back to the topic today.

Pelajar menilai ini sebagai sebuah ketidakadilan karena hasil jerih payah mereka bersekolah bertahun-tahun hanya ditentukan dalam sekian hari Final Exam. Memang tidak adil, apalagi kalau harus mengingat biaya yang dikeluarkan untuk sekolah bertahun-tahun tapi ditentukan dengan Ujian yang hanya dinilai pada saat itu juga.

You know, menjelang UAN banyak penyakit-penyakit aneh yang mendadak muncul ke permukaan membuyarkan semuanya. Penyakit kambuhan itu sering dikenal dengan Psikosomatis. Ada anak jenius yang sudah ketrima di universitas terkemuka mendadak stres menjelang UAN dan tidak lulus karena alasan tertentu. Ada juga anak dengan otak dibawah rata-rata yang lulus dengan gemilang. Apalagi kalau bukan karena bantuan Dewa Penyelamat yang disebut SERVER.

Alasan kedua,
Seperti yang sudah disinggung diatas, SERVER. Jaringan yang solid dibentuk dan dipersiapkan jauh-jauh bulan sebelum hari H Final Exam. Dan jujurnya, aku sama sekali nggak setuju dengan SERVER atau apapun itu namanya. Fyi, UAN ada untuk mengukur apa yang kita peroleh di sekolah, seberapa jauh kita bisa menangkap pelajaran yang diberikan di sekolah.

Akhirnya karena itu semua, yang dipentingkan dari Final Exam hanyalah lulus lulus dan lulus. Oke, lulus memang hal terpenting dari rangkaian panjang proses pendidikan di sekolah. Tapi, karena hal itu, banyak orang yang melupakan unsur-unsur lain yang sama pentingnya dengan kelulusan, atau bahkan bisa dinilai lebih penting dari kelulusan.

Ada ungkapan klise yang mengatakan, mencari orang jujur dan benar itu lebih sulit dibandingkan menemukan orang pintar. Dalam satu sekolah ada banyak sekali orang pintar, tapi orang jujur dan benar, it’s hard to find them.

Sekarang aku kelas 12, and about 4 weeks akan mengalami juga yang namanya Final Exam. Segala macam persiapan sudah dibentuk. Segala macam tekanan semakin sering didengungkan, oleh keluarga, guru, kalender, waktu, pengumuman, bahkan ibu-ibu di warung juga punya andil dalam menekan kejiwaan seseorang menjelang UAN.

Oke, let’s talk about SERVER!

Setiap tahunnya, SERVER selalu ada dan sepertinya itu sudah menjadi sebuah kesatuan yang sangat sulit dihilangkan dari yang namanya UAN. Dimana ada UAN, disitu ada SERVER. SERVER ada dengan dalih untuk menyelamatkan mereka yang dianggap tidak mampu dengan dibantu oleh pihak-pihak yang dianggap bisa membantu. Aku rasa yang namanya SERVER sama sekali tidak mendidik. Terserah apa kata kalian, mau bilang aku sok atau apa. I don’t care.

Bukan hanya karena aku nggak ikutan sama apa itu yang namanya SERVER, aku juga emang nggak setuju dari jaman dulu. Sebego-begonya aku, aku lebih suka hasil kerja sendiri. Selain aku bisa tahu seberapa begonya aku, aku juga bisa ngukur apa aja yang udah masuk otak aku selama ini aku sekolah. Inget kata Pak Warso, “Biar bodoh, yang penting sombong.” That’s what I am. XP

Seperti yang sudah sering aku bilang, aku paling najis sama orang yang lebay Bombay gitu pas dapet nilai bagus tapi gara-gara nyontek. Mending kalau misalkan nyontek, dapet nilai bagus, tapi nggak terlalu menampakkan itu hasil nyontek di depan umum. Tapi, kalau yang hasil nyontek plus pamer dengan bangganya itu hasil nyontek, mati ajalah! Gak punya malu.

Oke, back to SERVER. Setahuku, dalam system itu, bahkan orang yang nggak terbiasa nyontek dipaksa untuk belajar dan dibekali trik-trik mengecoh dari para pakarnya. Dan aku yakin, orang yang dijadikan tumpuan dalam system itu (anak-anak pinter), tidak terbiasa nyontek. Lalu bagaimana dengan orang bodoh yang juga tidak terbiasa nyontek (like me)? Kalaupun pada Hari H, mereka mendapat jawaban tapi tidak punya keberanian untuk membuka jawaban itu, dan sayangnya anak itu hanya bergantung pada jawaban dari SERVER, akhirnya tidak lulus (amit-amit)? Siapa mau tanggung jawab? SERVER?

Di papan pengumuman sekolah bahkan dipasang poster UAN yang kurang lebihnya berisi agar tetap jujur dalam menghadapi UAN. Like Mami Mukti said, “untuk menghadapi UAN yang harus disiapkan adalah amunisi dan strategi. Kita nggak mungkin bisa perang tanpa amunisi. Dan kita juga nggak bisa berperang hanya dengan strategi. Amunisi kalian itu belajar, sedangkan strateginya SERVER, nyontek. Kalo kalian hanya bergantung pada strategi, mati aja.” Kurang lebihnya sih gitu isi wejangan dari Mamih.

Kalau kata aku sih, yang penting saat mengerjakan soal-soal adalah persiapan matang dan rasa percaya diri. Percaya dirinya tapi jangan over confidence ya. Kalau terlalu over ya sama aja syaiton. Banyakan doa, mendekatkan diri ke Allah buat yang Islam (pokoknya ke Tuhan kalian).
Semuanya dibawa santai, itu kalau aku. Walaupun tekanan menghadang dari segala penjuru. Satu yang aku tahu, Allah akan memberi yang terbaik buatku selama aku berusaha.

Doain aku yah semua. Tanpa SERVER, I’ll struggle by myself.

Alasan Ketiga,
Kalau dari awal KBM di sekolah sudah ada destination point berupa UAN, buat apa juga ada kurikulum? Sedangkan nggak jarang apa yang ada di kurikulum yang tengah dipelajari pada akhirnya nggak masuk UAN. Kadang yang timbul adalah perasaan percuma mempelajari sesuatu yang nggak muncul di UAN.

Kalau dari awal, destination point-nya adalah UAN, kenapa dari awal nggak dipersiapin aja buat UAN? Sejak kelas 1 dijejali soal-soal UAN. Jadi pas menjelang UAN tinggal refresh otak dengan soal-soal yang segambreng. Itu lebih efektif kan? Murid-murid akan menguasai soal, wis nglotok.

Tapi kata Pak Yanto, “Kalo untuk menguasai soal, nggak usah sekolah. Lebih baik ke neutron ato primagama. Yang namanya sekolah itu untuk menguasai materi.” Gitu katanya. Iya sih, memang ada benarnya. Tapi, pada akhirnya kami akan berhadapan dengan soal-soal kan? Bukan dengan materi-materi?

Yang Keempat,
Mungkin kalau UAN tidak untuk menentukan kelulusan, kami masih bisa berlapang dada menerima keberadaannya. Tapi, memang terkesan tidak adil lulus hanya ditentukan sekian hari dengan durasi waktu pendek yang mematikan.

Belum lagi mata pelajarang selain UAN kadang diremehkan oleh murid-murid karena tidak masuk menentukan kelulusan. Bukannya apa-apa, kasihan sama guru yang pelajarannya nggak masuk UAN. Miris memikirkan nasib mereka. Kadang juga guru-guru pelajaran UAN merasa terlalu dipentingkan, ngalah-ngalahke gitu. Jadi, kadang terlihat sikap tidak saling menghargai antar pengajar.

Waktu itu aku pernah ngobrol sama salah satu guru tentang UAN. Waktu itu pas MK menolak adanya UAN. Beliau bilang, mungkin ada baiknya UAN tidak dijadikn sebagai penentu kelulusan. Mungkin ada baiknya UAN digunakan sebagai alat survey kuallitas pendidikan di Indonesia dan juga diperhitungkan dalam menentukan menentukan kelulusan, tapi tidak mutlak hanya dari UAN. Itu sih aku juga setuju. Dan aku rasa banyak pelajar yang akan setuju dengan gagasan itu. Iya kan?

Mungkin segitu dulu sisi negative UAN. Kapan-kapan kalo aku nemu sisi positifnya, aku akan ulas lagi disini. Sekalian nyari-nyari juga sisi positif dan negatifnya.

I think that’s all.
At last I say, A Velly Intewesting Blog.

No comments:

Post a Comment