Wednesday, March 3

Love?

LOVE?

What is love actually? Why must love? Why not others?

Nggak tahu kenapa aku pengen nulis tentang LOVE? dan segala macam faktor X yang ada di dalamnya. LOVE is can be so easy to be explained, but sometime it can be so hard to describe what love is.

Love is an unpredictable thing. Love is super organic thing. it’s indescribable. Dan satu hal yang paling penting, Love is not all about a boy and a girl.

Love itu lebih tepat diartikan sebagai cinta atau sayang? Itu adalah pertanyaan mudah yang menurutku sulit untuk dijawab. Sejauh yang aku tahu, cewek menganggap rasa sayang lebih tinggi derajatnya daripada cinta. Sangat berkebalikan dengan pikiran cowok yang menganggap cinta setingkat lebih tinggi daripada sayang.

Dan menurutku, sayang memang lebih tinggi, lebih natural, lebih asli dan lebih familiar daripada cinta.

**Hyakz! Sodara-sodara, aku jadi pengen muntah mbaca tulisanku diatas. Buset! Kesurupan apa sampe aku bisa nulis begitu? Ya Tuhan, mungkin aku salah makan!

Ehem, ayo kita lihat seberapa kuat aku ngomong tentang Love (Nggak mau pake kata CINTA, jijik nulisnya. Love lebih bisa mewakili semuanya).

Ayo bicara tentang Love yang lebih universal!


Seperti yang sudah aku singgung diatas, Love is not only about a boy and a girl. Karena, boys and girls belum bisa memaknai apa itu Love secara utuh. Jangankan yang masih berpredikat cowok dan cewek, yang udah berpredikat wanita tua atau duda beranak lima pun belum tentu bisa memaknainya secara sempurna. Padahal menurut umur, harusnya mereka yang paling pinter tentang Love Love-an.

Orang biasa melihat Love dari sudut pandang yang berbeda-beda dan tidak secara utuh. Maksudnya gini, saat seorang cewek atau cowok merasakan sebuah getaran (Getaran? Gempa, Vel?) di hatinya, mereka akan terus meninggikan dan memuja perasaan yang tengah mereka rasakan. Mau di facebook, twitter, blog, anywhere. Intinya mereka ingin bisa menunjukkan Love yang sedang mereka rasa terhadap orang yang di-Love-in dan juga semua orang.


Dan pada saat Love mereka berakhir, mereka lebih-lebih menunjukkan rasa sakit hati, kecewa, pokoknya perasaan-perasaan lebay itulah, juga dengan cara yang tidak lebih sederhana dari saat mereka baru mulai merasakan getaran gempa di hati mereka. Maksudnya, nggak pas jadian nggak pas putus, kerjaannya tuh ribuuuuuuuuuuuut mulu di situs! Gatau deh itu yang dirasa apaan. Tapi, kalo kalian para Lover merasa lebih baik dengan cara itu, go ahead, silakan.

Cuma, aku agak risih aja bacanya. Aku hanya berpikir kadang manusia seperti itu terlalu picik dan punya dunia yang terlalu sempit karena hanya melihat Love seperti apa yang mereka rasa. Bukannya apa-apa, kok ya Love yang belum karuan bakal abadi (Cih! Bahasane loh!) itu udah heboh duluan. Biasalah, paling yang ruwet-ruwet gitu ana-anak SMP sama SMA yang masih puber. Maklum lah, Monkey Love. Jadi yang pada ribut bukan orang, itu adalah monyet-monyet. Maklumi ajalah. Katanya nenek moyang manusia kan monyet, jadi itu yang ribut bukan para remajanya, melainkan alam bawah sadar mereka yang berwujud monyet! XD. Aku juga dulu pernah jadi salah satu dari monyet itu. Yeah, tapi sekarang sih udah jadi manusia. Alhamdulillah~

So far, banyak orang yang beranggapan Love itu hanya terjadi kalo ada acara tembak-tembakan. Cowok nembak cewek setelah pedekate seumur hidup, terus diterima. Itu baru Love? nggak juga tuh.

Padahal di dunia ini ada Love yang lebih mulia dan amat sangat lebih tinggi levelnya daripada Love para monyet itu, they are Our parents’ and God’s love. itu Love paling abadi sepanjang masa. Makanya daripada ngeributin Monkey Love, mending pamerin deh tuh Love kalian ke orang tua sama Tuhan. Tapi emang rada susah sih. Beneran, susah!

Tapi nggak ada salahnya juga dink. Toh kita juga lagi puber, masa remaja ye. Gak afdol kalo nggak ngerasain Monkey Love. Iya kan para monyet?

Love is all about feeling. Love is all about believing.

Seperti sebuah pepatah (Apanya yang patah, Vel?), “When LOVE asks you why, the answer is not BECAUSE, but ALTHOUGH.” Jadi, kalo Love tanya kenapa, jawabannya bukan karena, tetapi walaupun. Kalo jawabannya karena pasti njawabnya yang gombal surealis amit-amit gitu deh. Tapi kalo walaupun? Kebalikannya 100%.

Walaupun kamu goblok, walaupun kamu jarang mandi, walaupun kamu jelek, walaupun kamu bla bla bla bla. Masa ada orang mau njawab walaupun pake yang bagus-bagus? Nggak kan?

Nggak mungkin ada orang njawab gini, walaupun kamu cantik, walaupun kamu pinter, walaupun kamu kaya, walaupun orang tua kamu setuju, walaupun kamu bla bla bla bla. Preeeeeeeeett! Non sense! Bunuh aja kalo ada orang yang njawabnya gitu!



Everybody is still learning how to love. Like Jordin and Guy Sebastian Song, Art of Love. Sumpah suka banget lagu itu. Sedikit lirik reff-nya,

I’m still learning the art of love
I’m still trying to not mess up
So whenever I stumble let me know
You need to spell it out for me
Cause I’m still learning the art of love

Kalo yang baru belajar Love-love-an, mending dengerin lagu itu dulu deh. Baru bisa berlebay-lebay ria dalam mengekspresikan Love itu. Kalo masih Newbie, jangan dengerin lagunya Marc Anthony yang judulnya My Baby You. Atau kalian akan tumbuh sebagai orang yang amat sangat lebay dalam berekspresi. Check the lyrics,

my baby you
are the reason i could fly
and 'cause of you
i don't have to wonder why
baby you
there's no more just getting by
you're the reason i feel so alive

Buset dah, hebat banget kan liriknya? Lebay abis! Hahaha, tapi lagunya bagus sih. Aku juga suka ndengerin kok. :D

That’s all about Love Love-an. Pusing nulisnya. Hahaha, sumpah! Mending nulis apa gitu. Ga jelas banget deh. Tulisan remaja stress yang tertekan menghadapi UAN ini sih. Maap maap aja kalo ada yang kesindir ato ngerasa kesel, sengit, jengkel mbaca tulisan ini, comment-in aja.

Nggak apa-apa kok. Mumpung ditawarin ngomment loh! Lagi baik nih soalnya~

I think that’s all,
At last I say, A Velly Intewesting Blog.

No comments:

Post a Comment