Thursday, March 11

We are Social !

Ayo teriak rame-rame! “WE ARE SOCIAL!”

Setelah sekian hari, akhirnya mutusin buat nulis tentang yang satu ini. Mengingat ada begitu banyak hal yang ingin disampaikan. Dan juga ada maksud untuk memprovokasi anak-anak social agar bangga dengan pilihan mereka yaitu Menjadi Makhluk Sosial sepenuhnya.

Manusia adalah makhluk sosial yang hidup di sebuah masyarakat sosial. Apapun itu bentuknya, yang namanya interaksi sosial nggak akan pernah putus sampe kapan pun. Yang namanya manusia sampe kapan pun juga tetep akan jadi makhluk sosial, semua manusia. Nggak akan mungkin seluruh manusia di dunia ini jadi makhluk ilmiah. Ada sebagian. Tapi di dalam diri makhluk ilmiah itu akan tetep ada yang namanya jiwa sosial. Seberapapun itu jeniusnya mereka dalam eksperimen, nggak akan hilang yang namanya jiwa sosial dari diri seseorang. Coba, sosial sama ilmiah lebih merakyat mana? Manusia tanpa jiwa sosial? Mau jadi apa?

Ok. Sekarang mari bicara tentang dunia remaja, yaitu sekolah.

I’m a teenager. Mau nggak mau aku juga harus membuka mata dengan hal-hal yang terjadi di sekolah. Sekolah, sebuah tempat yang sarat interaksi dan kehidupan sosial remaja dengan segala cerita dan intriknya.

Kebanyakan sekolah membagi kelas-kelasnya dengan dua pilihan, yaitu IPA dan IPS. Aku nggak akan bicara tentan IPA, karena aku nggak tahu apa itu IPA; karena aku nggak paham apa itu fisika, kimia, dan biologi; karena aku tidak akan hidup dan bersosialisasi dengan hukum newton, elektron, dan organisme. Aku bersosialisasi dengan manusia, karena aku manusia.

Itu kenapa aku memilih Sosial sebagai duniaku. Dunia yang hubungannya sangat erat dengan kehidupan sehari-hariku sebagai makhluk sosial.

Sosial, tidak banyak yang memilihnya. Kenapa? Apa mereka tidak siap menjadi minoritas? Apa mereka tidak siap dengan segala predikat yang identik dengan kelas sosial? Atau karena gengsi? Lalu kenapa juga mereka memilih sosial? Apa mereka benar-benar siap menjadi minoritas di tengah dominasi mayoritas yang begitu tidak seimbang? Apa mereka telah siap dengan segala predikat itu? Apa mereka tidak memikirkan gengsi?
Kalau bicara tentang kesiapan, sampai kapan pun aku yakin yang namanya manusia kalau nggak karena terpaksa, nggak akan bisa bilang siap. Sampai saatnya tiba, tidak akan pernah ada kesiapan dalam diri seseorang kecuali dipaksa oleh keadaan. Itu konsekuensi, hasil dari sebuah pilihan.

Bicara tentang predikat? IPS, memang begitu adanya. Sangat identik dengan orang-orang dengan pikiran bebas. Tapi, walau bagaimanapun orang-orang yang tidak pernah merasakan bagaimana rasanya jadi anak IPS, tidak punya hak untuk berkata apapun tentang kita, masyarakay IPS. Kenapa? Karena mereka nggak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi kita, manusia dengan pikiran bebas tanpa kontaminasi rumus dan senyawa.

Berpikir tentang gengsi, nggak bisa bohong memang IPS kalah gengsi dengan IPA. Tapi, untuk apa berpusing-pusing masuk IPA kalau pada akhirnya saat memasuki jenjang yang lebih tinggi mengambil keputusan untuk beralih ke jurusan jatah anak-anak IPS? Iya kan? Apa nggak kalah gengsi tuh? Kalo bahasaku sih, itu namanya nyiksa hidup sendiri. Pusing-pusing berjuang di IPA, tapi ujung-ujungnya ngambil IPS juga buat menopang masa depan mereka.

Dan lagi, hasil Pra UN kota kemarin menyebutkan bahwa ada lebih banyak siswa tidak lulus dari kelas IPA. Perbandingannya 1:11 antara IPA:IPS. Bukannya apa-apa, Cuma nggak sreg aja kalau seseorang memilih sebuah jurusan hanya berdasarkan gengsi dan egoisme. Dan pada akhirnya kenyataan yang berbicara.

Menurutku, itu semua bukan salah dari siswanya. Kesalahan ada pada sistem dan pihak-pihak yang bertanggungjawab diharapkan tidak hanya tinggal diam dengan semua kegagalan yang terjadi karena sistem yang terkesan dipaksakan itu.

Sistem pemaksaan. Ya, sekolah memaksakan kehendak dengan memperbanyak kelas IPA. Perbandinganya juga nggak tanggung-tanggung, 2:7. Selama dua tahun dibiarkan berjalan begitu tanpa memikirkan hasil akhirnya nanti. Awalnya mungkin memang menyenangkan ada banyak kawan dan menjadi kaum mayoritas. Tapi saat detik-detik penentuan tiba, semua dipaksa bekerja ekstra keras. Nggak gurunya nggak muridnya, semua sama-sama keteteran.

Sementara IPS, tetap berjalan sesantai gaya mereka biasanya. Tidak ada yang namanya kekurangan jam pelajaran, yang ada keberlebihan jam pelajaran karena jam mengajar guru-gurunya dipangkas habis sejumlah kelasnya.

Disini letak ketidakadilannya. Inilah yang akhirnya membuat guru-guru IPS mulai malas mengajar, karena mereka ikut-ikutan frustrasi dengan keputusan sekolah. Pada akhirnya, kadang yang timbul adalah kemarahan terpendam pada sekolah yang akhirnya disalurkan melalui murid-muridnya. Ngamuk, marah-marah, hal-hal yang tidak jelas.

Nggak jarang guru-guru ini juga ikut mendiskrimasi murid-muridnya seperti mereka mendiskrimasikan kami. Kurang sakit hati apalagi coba? Udah didiskrimasiin kaum mayoritas, ditambah didiskriminasikan pula oleh pengajar sendiri. Mereka bilang bla bla bla bla, ikut membandingkan dengan kelas IPA. Sakit sumpah kalo inget-inget itu. Bilang nilai kami selalu jelek-jelek, kami mbedud-mbedud, nggak kayak anak IPA yang bla bla bla bla.

Heyyou!!! Dikasih motivasi kenapa? Berasa jadi anak tiri guru sendiri. Guru sendiri aja memperlakukan seperti itu, gimana guru lain? nggak tambah diskriminatif aja untung!

Buat anak-anak sosial kelas 11, aku tunggu realisasi Proyek Sarung kalian! realisasikan dan permalukan orang yang jahat kepada kita dengan cara yang lebih anggun dan elegan tanpa harus ada kata-kata kasar dan teriakan penuh umpatan. Cara yang lebih elegan dan mewah dengan Proyek Sarung kalian sebagai perwujudan bahwa kalian juga bisa tanpa fasilitas sekolah. Kalo cara itu belum berhasil juga, kita cari cara yang lebih mewah dan elegan lagi. oke?

Apapun itu hasilnya, Aku bangga dengan pencapaian kalian dalam lomba antar kelas kali ini. Aku bangga pada kalian, makhluk-makhluk dengan jiwa sosial dan rasa kekeluargaan. Rasa saling memiliki dan mendukung satu sama lain. Justru kalian lah orang-orang terpilih dengan motivasi keras membuktikan pada mereka bahwa kita bukan Minoritas Biasa. Kita LUAR BIASA.

Pak Agus bilang, sebelum aku lulus, beliau berharap agar aku bisa menularkan keberanian pada kalian agar kalian bisa menunjukkan pada semua tentang kebenaran. Kebenaran itu relatif, sodara-sodara. Hal yang pasti dari sebuah kebenaran adalah keyakinan. Tanpa keyakinan, nggak ada yang namanya kebenaran.

Dan aku yakin, kalian punya cukup keberanian untuk menjadi manusia revolusioner berikutnya dari sekolah kita. Dan saat aku pergi dari sekolah itu, aku harap kalian bisa menularkan semangat dan keyakinan kalian pada penerus kita nanti.

Maaf kalo nggak bisa membantu banyak. Aku hanya bisa menulis dan memotovasi kalian sebisaku. Satu hal, aku bangga pada kalian. Kegigihan dan persatuan kalian sebagai manusia sosial, aku nggak bisa menemukan itu di kelas dan IPS angkatanku. Itu kenapa aku kagum pada kalian dan semua usaha kalian dalam mempertahankan kehormatan IPS.

Aku iri. Serius.

Kalo aja bisa, aku ingin menjadi bagian dari kalian. keluarga angkatan kalian yang kompak dan menjadi bagian dari kalian.

Huwaaaaaaaaaaaaaaa!! Aku pengen nangis nulis ini. Sumpah! Semangat yah adik-adikku tersayang. Aku berharap suatu saat nanti kita bisa menunjukkan pada mereka bahwa kita bisa sukses justru dengan semua ejekan dan perlakuan mereka. Dan pada saat itu, kita baru bisa tertawa bangga.

At last I say, A Velly Intewesting Blog.

No comments:

Post a Comment