Friday, April 30

Gimana Kalo Dibalik?

Judul: Gimana Kalo Dibalik?

Sebuah catatan pasca pengumuman kelulusan Ujian Nasional. Alhamdulillah aku lulus. Tapi memang tahun ini sekolahku nggak lulus 100%, nggak kayak tahun-tahun sebelumnya. Ada 3 yang nggak lulus dari kelas IPA dan 1 dari kelas IPS.

Tulisan ini Cuma buat bahan renungan aja. Karena saat Hari H pengumuman bahkan sampai saat ini perselisihan masih aja eksis di facebook, mxit, and situs jejaring sosial lain. Dan tentu aja perselisihan ini melibatkan sekolah-sekolah yang jarang akur yaitu sekolahku dan beberapa sekolah (nggak boleh nyebut merk).

Inget Asas Sirik? Mungkin gitu kali yah. Seneng ngeliat orang susah, susah ngeliat orang seneng.

Actually, aku pengen ikut-ikutan ribut juga. Tapi, ada hal-hal yang bikin aku ngurungin niat. Yang pertama, nggak tau kenapa jiwa nyolotku nggak nongol pada masa-masa itu. Yang kedua, aku mikirnya sih biarin ajalah. Why? Karena, mungkin untuk mereka lulus 100% adalah sesuatu yang luar biasa dan harus dirayakan dengan cara yang juga sangat nggak biasa. Mungkin nggak setiap tahun juga kan mereka bisa lulus 100%? Just go ahead. Nggak ada salahnya kan nyenengin hati orang? Jorna baelah…

Tapi, yang bikin aku prihatin (bahasane tua!) itu kok ya lulus nemu bisa sebangga itu loh. Belum lagi merayakan kelulusan dengan cara yang sama sekali nggak elegan, bahkan terkesan urakan dan kampungan. Lulus nemu aja seheboh itu, gimana kalo lulus hasil sendiri?

Walau gimanapun, hal itu nggak bisa dipungkiri. Mau seberapapun kalian mencoba mengelak, tetep aja kecurangan ada dibalik keberhasilan kalian. Yang mau mengakui silakan, yang mau mungkir ya silakan.

Aku bangga dengan beberapa orang teman yang mengatakan kalau mereka sama sekali nggak bangga saat melihat nilai mereka hanya karena itu bukan hasil dari otak mereka. CATET, Bukan hasil OTAK MEREKA!

Dan aku? Gimana dengan nilaiku sendiri? Walaupun dengan perolehan nilai PALING RENDAH sekelas, AKU BANGGA DENGAN NILAIKU! Sumpah. Karena mungkin kapasitas otakku Cuma segitu. Dan awalnya, lahir batin aku ridho kalo cuma dapet nile ngepas 5,5 semua. Yang penting lulus, kan?. Tapi Alhamdulillah, nggak separah itulah :D

Gimana kalo dibalik?
Kalo sekolahku 100% lulus dan sekolah mereka nggak? Apa iya sekolahku bakal ngelakuin hal-hal seperti yang mereka lakuin? Konvoi di depan sekolah orang dan melecehkan sebuah institusi yang disebut sekolah dengan kelakuan nggak pantes? Kalian topeng monyet ya?

Tapi kenyataannya, sekolahku nggak lulus 100%. Selamat aja buat sekolah-sekolah yang lulus 100%. Bagus lagi kalo lulusnya pake otak sendiri. Pasti kalian akan lebih bangga.

Satu hal yang harus kita sadari, Ada banyak hal yang bikin kita lulus. Dan ada lebih banyak hal yang bikin kita nggak lulus”

Remember one thing. Yang penting bukan awal atau akhir. Tapi, yang mendewasakan manusia adalah proses. Sama halnya dengan, we can not measure that people are educated just by point they got in examination. Process decides it.

Satu cerita lagi. Ini tentang kelasku dan kelas sebelah.

Jadi gini, kelasku lulus semua dan di kelas sebelah ada satu yang nggak lulus. Dan saat wali kelas mengumumkan kalau kelasku lulus semua, otomatis tanpa dikomando (alam bawah sadar yang ngomando) kami bersorak. Dan beberapa saat kemudian, kami di-sms oleh salah seorang dari kelas sebelah kalau kami nggak usah bersorak-sorak gitu. karena apa, kami harus menjaga perasaan anak yang nggak lulus itu.

Gimana kalo dibalik?
Anak kelasku yang nggak lulus satu dan kelas kalian lulus semua? Pasti kalian bakal bersorak nunjukin perasaan seneng kalian. Jujur aja deh.

Aku kalo ada posisi kalian, dan ada temen sekelas yang nggak lulus, tetep aja pasti pengen gemboran meluapkan kegembiraan atas kelulusanku. Tapi, aku bakal nahan karena menghargai temen yang nggak lulus itu. Terus, gimana bisa kami dilarang meluapkan kebahagiaan atas keberhasilan kami? Toh kami nggak ngerugiin kalian apa-apa kan?

Setelah bersorak sekali itu juga kami nggak ngelakuin hal-hal lain kan? Kalo gitu caranya, kalo kami harus menghargai anak-anak yang nggak lulus, harusnya kelas IPA juga dibilangin biar nggak sorak-sorak pas lulus. Di kelas IPA yang nggak lulus 3, tapi tetep biasa aja tuh. Nggak ada larangan bersorak sorai. Kalo perlu semua orang harus pasang muka SAD. Nangis-nangis Bombay gitu =.=’

Akhirnya terluapkan sudah. Yang terima monggo, yang terima juga monggo. Aku hanya ingin kalian jujur pada kalian sendiri. That’s it.

Satu pesan dariku >> "Kekalahan selalu akan bersifat sementara"

At last I say, A Velly Intewesting Blog.

No comments:

Post a Comment