Saturday, April 10

I Give Up :')

Pagi ini harusnya aku berangkat ke Semarang. Tapi, sekarang aku ada di sekolah, duduk di salah satu sudut dan posting blog dengan emosi menggebu-gebu.

Aku menyerah pada keadaan, karena aku nggak suka terlalu memaksakan. Kalo memang nggak bisa, kenapa aku harus memaksakan? Sesuatu yang udah sebulan ini bener-bener aku perjuangin. Aku jarang menginginkan sesuatu seperti aku menginginkan hal ini. Tapi akhirnya aku nyerah juga. Yang penting udah usaha lah~

Beberapa waktu lalu kayaknya aku pernah nulis tentang keinginanku ikut Public Speaking Competition di Unika Soegijapranata. Ya, aku memang udah dapet apa yang aku mau. Aku udah memenuhi syarat-syarat ikut lomba itu.

Dengan sebuah perjalanan panjang, akhirnya aku ndaftar.

KRONOLOGIS…, Eng Ing Eng!



Sebenernya aku nggak pengen nyerah. Sebenernya aku pengen terus maju. Dan mau nggak mau, akhirnya aku harus bilang aku mundur. Perjuangan panjang itu aku akhiri disini.

Bukan tanpa alasan aku ngelakuin itu. Setelah perdebatan panjang sama Umi, akhirnya memang aku yang harus ngalah. Aku udah bilang, aku nggak mau memaksa keadaan untuk mengikuti apa yang aku inginkan. Aku harus memikirkan  orang-orang di sekitarku juga.

Alasan pertama, aku nggak pengen membebani orang tua dengan terlalu banyak minta duit untuk sesuatu yang terlalu selfish. Disini kedewasaan diuji. Kalo aku Cuma mikirin mauku doang, aku nggak pernah mau nyerah. Tapi, kemana-mana juga aku masih minta duit ke orang tua. Dan setelah aku pikir-pikir, aku ikut PSC itu juga sedikit memaksakan kehendak. Dan umi bilang, sesuatu yang dipaksakan, hasilnya nggak akan seperti apa yang kita inginkan. Kata umi, mungkin ini bukan kesempatanku. Ya, aku nurut ajalah.

Belum lagi, last week I went to Semarang twice. Dan tentu aja minta duit extra dua kali. Kalo hari ini aku jadi ke Semarang dan minggu depan ke Semarang lagi, kasian orang tuaku lah. Emang mereka punya pohon duit? Dan juga, kebutuhan buat teater nggak sedikit, belum ada album kenangan. Waktu-waktu seperti ini adalah waktu dimana aku (terlalu) sering minta duit ekstra. Jadi, yaudah. Mencoba mikirin perasaan orang lain juga lah. Toh aku kan masih sangat tergantung ke mereka.

Dan juga, kalo aku keluar kota, aku harus ditemenin kakakku. Karena umi itu orangnya panikan aja. maklum, ibu-ibu. Kata umi gini, “Umi khawatir kalo kamu keluar kota nggak ditemenin kakakmu. Masalahnya itu kota besar, kalo nyasar, kamu bisa jadi mangsa orang”. Hahaha, bener juga dink kata Umi. Di Tegal aja aku sering nyasar, gimana di kandang orang? Intinya, alasan pertama seputar orang tua dan keluarga deh.

Alasan kedua, TLTP (The Last Theater Project). Sesuatu yang bener-bener diluar perkiraanku. Untuk hal ini, aku diberi tanggung jawab besar. Oke, proyek ini jadi salah satu bahan pemikiran untuk akhirnya aku bilang “nyerah”. Ini tahun terakhirku, aku pengen punya sedikit kenangan indah sama kelas yang nggak terlalu indah. Belum lagi tanggal 16-20 April ada Pekan Festival Teater dan sebagai sutradara aku diwajibkan nonton semuanya. Oke, kalo memang itu harus, why not?

Teater dan Lomba itu, dua-duanya akan menjadi pengalaman luar biasa buatku andai saja nggak terlalu mepet-mepet gitu waktunya. Dan buat ornag yang haus pengalaman kayak aku, aku bener-bener nggak pengen melewatkan keduanya. But, life is about choosing. Dan aku lebih memilih merelakan lomba daripada teater. Aku pengen ngabisin banyak waktu sama temen-temen. Btw, jadi sutradara ternyata enak juga. Mumet-mumet nikmat. :D

Perasaan kecewa, pasti ada lah. Perasaan gelo, itu pasti. Perasaan seneng, nggak tahu kenapa ada (walopun sedikit). Perasaan rela, harus ada banyak. Ah, intinya aku bakal stay di Tegal and nggarap teater, bertugas sebagai orang yang bertanggungjawab pada orang banyak.

At last I say, A Velly Intewesting Blog.

No comments:

Post a Comment