Thursday, April 8

Praduga tak Bersalah - Proaktif VS Reaktif

Asas Praduga nggak Bersalah VS Cara Berpikir Proaktif

Kenapa mendadak nulis tentang ini? Karena semalem aku kepikiran dua hal itu. Aku suka berpikir, tapi kadang mengabaikan pikiran-pikiranku. Karena udah ngganggu otakku semaleman, mending aku tulis aja.

Di salah satu buku aku baca tentang Cara Berpikir Reaktif dan Proaktif. Dan jujur, mungkin aku termasuk orang yang reaktif. Why? Because, that’s what I am. Normalnya sih gitu. Jadi, kalo suatu saat kalian menemukan aku dengan cirri-ciri proaktif, itu berarti lagi kumat nggak warasnya.

Cara berpikir Proaktif adalah tahapan tertinggi dari sekian banyak tahapan cara berpikir manusia. Nggak beda sama Asas Praduga nggak Bersalah, cara berpikir proaktif selalu melihat sesuatu dengan pikiran yang selalu positif. Bukannya apa-apa, aku Cuma aneh aja kalo ada orang yang selalu positif mulu mikirnya. Emangnya nggak ada hal negative dalam dunia mereka? Hampir menganggap kalau ada kesalahan maka itu adalah salah mereka. Hey, you are human, huh?

Sedangkan Asas Praduga nggak Bersalah juga berpikir positif terhadap seseorang atau sesuatu. Walaupun bukti udah ada di depan mata, jelas-jelas, asas ini tetep aja dipake. Nggak curigaan intinya. Asas ini kayaknya laku banget deh, asli. Bener aja kebanyakan masalah di negara ini nggak kelar-kelar karena selalu make Asas Praduga nggak Bersalah mulu.

Aku sering menjumpai masalah dalam sebuah hubungan segitiga. Yang dimaksud hubungan segitiga itu biasanya ada satu cewek, dua cowok, atau sebaliknya. Si cowok saling berteman dan si cewek jadi pacar salah satu cowok itu. Then cowok satunya ngomong bla bla bla ke si cewek tentang cowoknya.

Hanya ada dua kemungkinan. Si cewek menanggapinya reaktif atau langsung menggunakan Asas Praduga nggak Bersalah-Proaktif. Reaktif ke cowok satunya, mikir kalo cowok itu nggak suka hubungan mereka (reaktif) atau tuh cowok suka si cewek (kepedean). Dan cowoknya disarungin Asas Praduga nggak bersalah. Dianggap yang baik-baik, sempurna, nggak ada celah sedikit pun buat yang namanya sifat negative. And I have to say, it is too naïve. Pacarannya sama orang kan?

Nggak tau kenapa kalo aku ngeliat orang yang pikirannya positif melulu, yang hobi nyalahin diri sendiri kalo ada something wrong, yang nganggep orang lain lebih baik dari dia; aku mikir mereka terlalu naïf. Menurutku mereka bukan manusia, mereka malaikat. Beneran. Karena menurutku yang bisa melakukan hal-hal seperti itu hanya malaikat.

Dan aku nggak bisa melakukan itu semua, lebih tepatnya belum bisa. Aku orang yang sangat reaktif. Hobi mikirin negatifnya dulu baru positifnya. Karena agar aku selalu siap dengan kemungkinan terburuk yang bisa aja terjadi. Hal-hal di dunia ini nggak selalu terjadi seperti apa yang kita inginkan. Kita ingin A, tapi bisa aja Allah malah belokin ke J. who knows?

Orang reaktif dimataku lebih jujur. Nggak tau kenapa. Aku hanya melihat cara berpikir reaktif bener-bener manusiawi banget, bukan malaikati. Lebih jujur, walaupun kadang memang terdengar menyakitkan. Contohnya saat mereka bilang, “Aku bete!” ke seseorang. That’s the really happen. Mungkin orang proaktif akan bilang dengan bahasa surealis tigkat tinggi, “Suasana hatiku nggak akan merusak hariku”. Intinya sama tapi penyampaiannya sangat berbeda. Dan terlalu berbeda.

Bagi yang hobi berpikir proaktif, aku salut dan berharap one day I can be like you. Bagi yang berpikir reaktif (like me), just be you if you think that’s what you really are dan segeralah bertobat ke jalan proaktif.

Yang terima, yang nggak terima, comment aja. Orang reaktif ini akan menggapinya. XP

At last I say, A Velly Intewesting Blog.

No comments:

Post a Comment