Friday, April 30

Akankah Seperti Inginku?


What is education actually? What is university actually?

Aku baru tahu susahnya mendapatkan sebuah tempat di perguruan tinggi. Memang mungkin yang selama ini aku perjuangkan bukan seperti apa yang benar-benar aku inginkan. Yang aku perjuangkan selama ini adalah apa yang aku butuhkan.

Lupakan semua kegagalan itu, but it’s hard. Mungkin bukan rejekinya, memang. Masih ada banyak kesempatan, mungkin.

Aku nggak pernah tahu sulitnya mendapatkan tempat di perguruan tinggi sampai aku merasakannya sendiri. Sekarang coba renungin, untuk mendapatkan bangku kuliah aja susah, gimana persaingan kerja 4-5 tahun ke depan saat aku lulus nanti? Apa semua lulusan itu dipastikan jadi orang sukses? Belum tentu.

Sekarang bicara tentang idealisme pendidikan. Hampir setiap orang ingin yang terbaik. Itu pasti. Lulus SMA dengan nilai memuaskan. Mendapatkan tempat kuliah, bahkan sebelum melepaskan diri dari predikat pelajar udah pesen tempat di perguruan tinggi idaman mereka. Lalu, lulus dengan nilai cum laude. Langsung direkrut perusahaan besar dengan gaji selangit. Siapa yang nggak mau? Tapi, itu hanya untuk sebagian kecil orang saja.

Kuliah, kampus, dosen. Lingkungan baru dengan peraturan dan cara yang benar-benar berbeda dengan sekolah. Sebenarnya, untuk apa orang kuliah? Apa karena mereka benar-benar peduli dengan pendidikan? Atau untuk tujuan lain?

Sejauh yang aku tahu, orientasi orang-orang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi adalah untuk masa depan yang lebih baik. Ya, umumnya begitu. Tapi, apa nggak ada cara lain? Dan sejauh yang aku lihat, orang dengan pendidikan lebih tinggi memang punya masa depan yang lebih cerah. Tapi, nggak semuanya seperti itu.

Orientasi masyarakat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (unversitas) adalah untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Intinya, continue study for being rich and not for being educated. Now people do not think about be educated. They do not care about that. They care about how to be rich and the way to get that. Salah satu jalan yang paling laku dan umumnya diambil adalah dengan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Banyak orang yang berpikiran, “Yang penting kuliah”. Yang pada akhirnya pemikiran itu membawa mereka pada tempat kuliah seadanya. I mean, bukan tempat yang benar-benar mereka inginkan dan harapkan, apalagi yang dibutuhkan. Kenapa mereka berpikir “Yang penting kuliah”? Itu karena mereka berpikir dengan kuliah, mereka akan mendapatkan pekerjaan yang layak.

Padahal nggak jarang juga orang dengan gelar sarjana pada akhirnya hanya jadi bawahan atau karyawan orang dengan pendidikan di bawah mereka. Banyak juga sarjana yang mondar-mandir kesana kemari bawa map, ngelamar kerja, nggak keterima-terima, dan akhirnya jadi pekerja serabutan.

Sekarang orang nggak lagi berpikir kalau ilmu adalah sumber kekuatan manusia. Karena, orang dengan ilmu berlimpah masih kalah pamor dengan orang dengan harta berlimpah. It’s reality.

Pemikiran masyarakat telah berubah. Nggak ada lagi yang namanya attend the lecture to be educated, yang ada attend the lecture to be rich.

Mungkin ada baiknya perguruan tinggi itu bisa memberikan pekerjaan setelah para mahasiswanya lulus, seperti layaknya perguruan tinggi kedinasan. Karena setelah lulus, mahasiswa membutuhkan pekerjaan.

Mungkin itu sebabnya perguruan tinggi kedinasan masih jadi perguruan tinggi favorit di Indonesia. Karena mereka bisa memberikan apa yang tidak bisa diberikan perguruan tinggi negeri dan swasta, yaitu pekerjaan setelah lulus.

Itu adalah salah satu kriteria perguruan tinggi idaman menurutku.

Selama ini, masyarakat melihat bahwa perguruan tinggi favorit di Indonesia adalah perguruan tinggi negeri. Saat musim pendaftaran, orang berbondong-bondong mendaftar ke perguruan tinggi negeri. Dan mereka beralih ke perguruan tinggi swasta saat mereka tidak mendapatkan perguruan tinggi negeri. Ada juga yang menjadikan perguruan tinggi swasta sebagai cadangan. Tapi, bagi orang-orang dengan ekonomi lebih, mereka cepat-cepat mengincar perguruan tinggi swasta. Itu karena mereka punya uang. Dan bagi mereka, perguruan tinggi swasta lebih prestisius dibandingkan perguruan tinggi negeri.

Berbeda dengan anggapan sebagian masyarakat. Mereka meganggap perguruan tinggi negeri lebih bagus, murah dan prestisius. Padahal sekarang ini, biaya perguruan tinggi negeri dan swasta nggak beda jauh kok. Ada perguruan tinggi negeri yang semahal swasta dan ada juga perguruan tinggi swasta yang biayanya nggak terlalu swasta.

And now, I just realized that money can control anything, nggak terkecuali masalah pendidikan. Kecewa, iya. Kadang orang dengan otak berlebih nggak bisa masuk ke perguruan tinggi yang diinginkan hanya karena kalah sumbangan dengan orang yang otaknya biasa-biasa aja. Dan aku punya banyak pertanyaan dalam kondisi seperti ini. Mau dibawa kemana pendidikan kita? Apa pendidikan hanya layak untuk mereka yang punya uang? Lalu bagaimana nasib orang-orang dengan ekonomi menengah kebawah? Dan pada saat-saat seperti itu, aku hanya punya satu permintaan. Make it fair, as fair as possible. But it will be so hard to do.

Aku ingin perguruan tinggi yang bener-bener merakyat. I mean, semuanya rakyat, semuanya sama. Nggak ada yang namanya perbedaan perlakuan alias diskriminasi yang hanya dikarenakan oleh uang. Mungkin aku nggak butuh perguruan tinggi negeri atau swasta, yang aku butuhkan adalah perguruan tinggi adil. Di Indonesia ada nggak ya?

Hahaha, kayaknya ini bakal jadi salah satu postingan paling long long journey deh. Soalnya ada banyak impianku yang ingin aku bicarain disini, apalagi tentang perguruan tinggi. So, sabar aja kalo mungkin nggak selese-selese.

Setiap perguruan tinggi punya trade mark masing-masing. Setiap perguruann tinggi punya visi dan misinya sendiri. Dan mereka pasti punya cara yang berbeda satu sama lain untuk menjadi perguruan tinggi terbaik. Setiap perguruan tinggi sudah menjadi yang terbaik mereka dan almamaternya.

Perguruan tinggi terbaik pasti dihuni oleh oleh orang-orang terpilih dengan kualitas otak yang nggak perlu diragukan lagi. Selain itu, perguruan tinggi terbaik juga punya fasilitas yang dibutuhkan mahasiswanya. Karena akan sangat tidak mungkin saat sebuah perguruan tinggi dengan sumber daya manusia kualitas super tidak dapat memenuhi kebutuhan mahasiswanya akan fasilitas memadai.

Fasilitas yang memadai nggak harus serba nomor satu. Yang pasti, fasilitas-fasilitas itu adalah yang benar-benar dibutuhkan mahasiswanya. Dan satu hal yang harus diingat adalah fasilitas itu harus seimbang dengan dana yang sudah dikeluarkan mahasiswa dalam menempuh pendidikan di perguruan tinggi tersebut. Remember, balance is better. Jadi, mahasiswa nggak menyesal telah mengeluarkan dana untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi yang dipilihnya.

Dan fasilitas-fasilitas itu juga harus mengikuti perkembangan zaman. I mean, mengikuti perkembangan teknologi. Jadi, nggak ada kata “ketinggalan zaman” untuk teknologi-teknologi di kampus. Sewajarnya ajalah, tapi tetep dinamis dan mengikuti perkembngan teknologi.

Perguruan tinggi yang baik nggak dengan mudah tergoda begitu saja dengan banyaknya nominal yang ditawarkan calon mahasiswanya. Perguruan tinggi yang baik adalah perguruan tinggi yang fair, adil dilihat dari segala segi.

Aku posting ini selain buat ikut Lomba Blog UII (Universitas Islam Indonesia), I wanna share what I really want. Karena aku belum dapet tempat di perguruan tinggi manapun. Wish me luck all. Get what I want and be what I want to be.

At last I say, A Velly Intewesting Blog.

1 comment:

  1. Berkunjung menjalin relasi dan mencari ilmu yang bermanfaat. Sukses yach ^_^
    Salam dari teamronggolawe.com

    ReplyDelete