Sunday, May 30

Education, that's it!

Ok. Aku balik lagi dan sekarang mau nulis tentang pendidikan di Indonesia.


Seperti yang kita tahu, Indonesia sering sekali melakukan perubahan dalam kurikulum dan sistem-sistem lain yang berkaitan dengan pendidikan. Dan sejujurnya, itu membuat para pelakudi bidang pendidikan itu sendiri tidak merasa nyaman.


Dalam 20 tahun terakhir saja sudah beberapa kali Indonesia berganti kurikulum. Mulai dari kurikulum 1994, KBK atau Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004, dan yang terakhir adalah KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan tahun 2006.


Tiga kali berganti kurikulum. Memang maksud dari kurikulum yang berganti-ganti adalah untuk menemukan kurikulum yang paling dianggap cocok dengan keadaan masyarakat kita. Tapi, justru kebijakan-kebijakan itu dianggap oleh para pelaku pendidikan sebagai ajang ‘Kelinci Percobaan’, terlebih bagi para siswanya.


Pendidikan adalah salah satu faktor penentu kemajuan suatu bangsa. Dan ya, memang seperti itu kenyataannya. Tapi, negara kita sepertinya tidak menaruh perhatian yang cukup terhadap pendidikan. Karena Indonesia tergolong negara berkembang, sektor ekonomi dan kesejahteraan masyarakat masih jadi prioritas utama pemerintah. Bukan berarti pemerintah tidak sayang pendidikan, pemerintah justru sangat sayang dengan pendidikan. It’s proven by the way out they find to solve problems in education sector. Berganti-gantinya kurikulum dan adanya Ujian Nasional adalah salah satu bukti rasa ‘sayang’ pemerintah terhadap pendidikan.


Menurutku, pendidikan di Indonesia adalah salah satu bidang paling bermasalah. Belum lagi saat harus bicara tentang Ujian Nasional, akan ada lebih banyak masalah. Seperti kita tahu, Ujian Nasional terus jadi polemic setiap tahunnya. Dan tahun ini adalah puncak dari segala polemic yaitu dengan menurunnya persentase kelulusan.


Yang disayangkan adalah pendapat salah satu orang paling bertanggungjawab yang hanya menanggapi santai seakan itu bukan hal besar. Inti dari pendapat itu adalah kelulusan menurun karena kejujuran meningkat.


Hell-O???! Menigkat dari Hongkong?


Menurutku, salah satu faktor menurunnya kelulusan di Indonesia adalah karena waktu pelaksanaan Ujian Nasional yang dimajukan. Aku nggak tahu kebijakan apa yang melatarbelakangi, tapi itu membuat kami (para pelajar) merasa keteteran dan harus kerja ekstra keras mengejar materi. Karena ya, aku lulus tahun ini dan menjadi kelinci percobaan waktu pelaksanaan Ujian Nasional yang dimajukan. Dan setelah lulus, merasa menjadi pengangguran kelas kakap karena I have nothing to do selain ikut ujian masuk universitas yang tidak dilaksanakan setiap hari.


Belum lagi tentang status sekolah. Ada yang Sekolah STandar Nasional, Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional, Sekolah Bertaraf Internasional, Sekolah Mandiri, Sekolah Internasional, dan banyak lagi yang hampir kesemuanya mengacu pada hal-hal berbau Internasional. Karena aku sekali lagi jadi kelinci percobaan untuk Sekolah Standar Nasional dan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional, aku punya beberapa pertanyaan.


Apa ada perbedaan soal untuk sekolah-sekolah itu saat Ujian Nasional?

Apa ada perlakuan khusus saat memasuki jenjang Universitas?

Apa ada perbedaan dalam cara mengajarnya?


Sejujurnya aku tidak punya cukup jawaban untuk menjawab pertanyaanku sendiri. Tidak adan bedanya stastus-status sekolah itu. Yang ada hanyalah sedikit perselisihan dengan sekolah-sekolah yang merasa iri karena tidak berstatus sama (sekolah low end).


Hampir semuanya masih menjadi masalah saloam sistem pendidikan kita. Dan diharapkan pemerintah dan pihak-pihak yang bertanggung jawab lebih pro aktif dalam mencari solusi terbaik masalah-masalah itu.


That’s all.

At last I say, A Velly Intewesting Blog.

No comments:

Post a Comment