Sunday, May 2

Theater Project (Part: Class Conflict)

Ini laporan tentang Theater Project kelas XII Sos 2 alias TWISTO. Tapi yang ini masih tanpa foto-foto, karena aku belum sempet minta foto-foto ke bagian dokumentasinya. Fotonya juga banyak banget.

Oke. Berikut laporannya. Aku lupa kapan tepatnya TWISTO mulai latihan buat Theater Project kami ini. Kurang lebihnya sih sebulan. Awalnya ada dua naskah yang diajuin, Pangsitku Wangsitku dan satu lagi drama percintaan gitu tapi aku lupa judulnya. Dan karena kelas kami memang berisi makhluk-makhluk dengan rasa humor berlebihan, akhirnya kami lebih lebih memilih ke Pangsitku Wangsitku.

Sejak naskah jadi, kami langsung latihan dialog. Dan terpilihlah orang-orang untuk memerankan masing-masing karakter. Berikut susunan awal pemain Pangsitku Wangsitku:
Bapak : Ferry Yahya (Oppe)
Ibu : Samirah (Sam)
Anak : Rani Komala (Rancom)
Dukun : Mars Dwika Aulia (Bombom)
Orang Gila : Nofa Ade Kurniawan
Maling 1 : Erman Sutanto
Maling 2 : Novita Hasparini
Hansip 1 : Andreas Sandi Setiawan (Anchiam)
Hansip 2 : Krisna Adam (Ayam)
Tetangga : Elisabeth (Cici)
Kurang satu orang, tapi aku lupa siapa. So sorry.

Nah, setelah pemilihan pemain, kami sering latihan di depan Laboratorium atas deket perpustakaan karena disitu relative sepi dan tempatnya juga enak buat latihan.

Kami sempet merubah pemain utama karena terjadi kudeta dalam tubuh organisasi. Jadi, karena satu dan lain hal, kami minta ganti Pimpinan Produksi yang aslinya ada di tangan Wiza Kusuma Ramadana. Dan kami memilih Bang Oppe sebagai Pimpinan Produksi karena Bang Oppe kan ketua kelas, jadi udah biasa ngurusin Kami.

Dan karena hal itu, kami terpaksa mencari pemain utama yang baru. Tugas Pimpinan Produksi kan berat dan tanggung jawabnya besar, jadi kami memilih Sidqi yang dinilai bisa memerankan dengan baik.

Oke, aku akui kalau memilih dia sebagai pemain utama adalah salah satu kesalahan. Kenapa? Karena 31 orang harus menuruti 1 orang yang sangat tidak bisa menghargai 31 orang itu. Ada banyak konflik yang terjadi setelah kami memilih dia.

Yang pertama, masalah kedisiplinan dan jadwal latihan. Kami harus mengikuti jadwal dia. dan kamii anggap itu fine, dulu. Dia bilang nggak bisa latihan pagi karena insomnia dan selallu bangun siang. Oke, kami ikuti, latihan siang. Dan latihan siang otomatis sampe sore. Dia ngomong lagi, kalo latihan sore nggak bisa. Nah, mulai dari situ kami mulai enek. Berasa paling hebat apa yah?

Puncaknya, saat aku posting di blog dengan judul Suhu Panas Pangsitku. Hidih, pokoknya hari itu ilfil berat sama makhluk yang satu itu.

K R O N O L O G I S

Kami latihan jam 12 seperti biasa di Gedung Wanita. Then, ditunggu sampe jam 2 dia nggak dateng-dateng. Di-sms pending, ditelpon lebih-lebih. Ternyata hapenya dimatiin. Dan begitu hapenya nyala, kami yang saat itu udah mencapai puncak, akhirnya telpon dia dan Ari yang paling kesel sama anak itu. Dia maki-maki anak itu di telpon.

Setelah telpon dan maki-maki dia, akhirnya kami latihan dan mutusin balik ke susunan awal. Bang Oppe merangkap jadi pemain dan Pimpro. Dan saat kami latihan, tanpa disangka, anak itu muncul dan marah-marah. Hey, nggak punya muka ya?

Ditunggu 2 jam, dan malah muncul karena dimaki-maki lewat telpon. Bukan karena tanggung jawab dan kesadaran dia sebagai pemain. Padahal di telpon juga udah bilang “terserah, terserah”. Nggak tau malu ik.

Untung situ nggak ditonjokin rame-rame. Kurang sabar apa? erwr!

Sorenya, Pak Rudi dateng nonton latihan kami. Dan kami cerita tentang masalah tadi. Kata Pak Rudi, ntar beliau mau melakukan pendekatan dulu. Dan oke, setelah pendekatan itu, akhirnya kami anggap semua selesai. Kami main lagi dengan Dia sebagai pemain utamanya.

Padahal hari sebelumnya, Dia sendiri ngasih ide biar anak yang nggak disiplin, telat, nggak berangkat dapet denda. Dan oke, kami setuju. Nggak taunya, denda makan tuan ya? heh

Dan satu lagi puncak adalah, H-1 pementasan. Dia kumat. Kami nunggu di Gedung Wanita 2 jam juga. Sampai akhirnya Yaya dateng dan bawa berita mencengangkan. You know what, Yaya ketemu orang itu lagi pacaran di Mall. Jadi, Yaya ketemu orang itu di tempat parkir. Yaya mau pulang, dan orang itu baru dateng. Apa nggak keterlaluan?

Kami nunggu sampe lumutan dan dia tanpa peduliin kami malah pergi ke Mall di saat yang sangat tidak tepat. Bego apa gimana sih? Baru ketemu orang kayak gitu deh. Ampun.

Japra, Ari, dan ham[ir semua anak udah nggak tahan. Tapi akhirnya tenaga mereka disalurkan ke hal yang lebih positif, yaitu latihan. Latihan dan akhirnya mutusin Bang Oppe sebagai Pemain Utama, F I X.

Aku nggak tahu itu lelucon atau beneran, tapi kata Ari, Japra adalah orang pertama yang mau nonjok orang itu seandainya dia boleh nonjokin orang itu. Aku sih terserah aja. Bahkan untuk yang satu ini, aku juga bakal urun tinju kok kalau dibutuhkan.

And you know what, saat orang itu dateng, kami sama sekali nggak ngerewes dia. kami nggak menganggap dia ada. Bahkan Kami menganggap dia bukan lagi anggota kelas kami.

Whatever you’re gonna say, I don’t care. Mau bilang kami kejam, silakan. Mau bilang kami nggak punya hati, silakan. Mau bilang kami keterlaluan, silakan.

Yang lebih mengesalkan sekaligus mengesankan, orang itu sejak awal lebih milih mbantuin kelas sebelah dimana pacarnya berada. Buat kelas sendiri kok susah banget ya? sampe bikin orang pada emosi gitu. whateverlaiyah.

Intinya, we can do it without you. Ashley Tisdale said: “It’s alright it’s ok. So much better without you”

Itu sedikit penggalan cerita dari Theater Project Kami. Dan yang kali ini konflik dengan kelas sendiri. posting kapan-kapan ntar konflik dengan kelas sebelah. Ada banyak part, tinggal tunggu aja tanggal mainnya. Dan Insya Allah bakal aku posting secepetnya di bulan mei ini.

At last I say, A Velly Intewesting Blog.

No comments:

Post a Comment