Sunday, July 15

Mereka, Orang Tua

Akhir-akhir ini saya sedang merasa terus menerus salah dimata orang tua saya, terutama umi. Saya yakin setiap anak pasti pernah merasa disalahkan terus-terusan sampai akhirnya muncul pikiran-pikiran aneh di kepala tentang sikap-sikap orang tua yang seperti itu.

Orang tua saya bukan tipe orang tua yang akan meminta maaf kepada anaknya, kecuali terpaksa. Mereka keras, seperti saya. Atau saya yang seperti mereka. Anak adalah refleksi orang tua. Saya bisa melihat bagaimana orang tua saya melalui diri saya sendiri. Saya sering ingin menjadi seperti mereka, untuk banyak hal; dan tidak untuk beberapa hal.

Di saat seperti ini, saat apa yang saya lakukan selalu salah dimata umi saya, hal terakhir yang saya lakukan cuma nangis. Tentu nggak di depan umi saya yah, saya nggak mau kelihatan lemah. Saya pengin umi tetep melihat saya sebagai anak yang keras dan nggak bisa dibilangin. Ada kecenderungan saya menyembunyikan perasaan saya sebenarnya dan selalu ingin dianggap buruk, saya sering seperti itu. Tapi, saya takut kalau pada akhirnya sikap saya yang seperti itu bikin suasana tambah buruk.

Saya marah, semarah-marahnya...
Tapi rasa marah itu berkurang saat saya bisa nangis. Lewat air mata itu beban saya perlahan menghilang dan saat saya kembali ke rumah, saya udah ngerasa biasa lagi. Kadang lewat tarikan nafas panjang yang dibuang dalam satu kali hembusan nafas. Saya bisa merasakan beban di pundak saya jadi lebih ringan. Terdengar klise, tapi ini nyata bagi saya. Pada akhirnya saya yang lebih sering menyerah sama orang tua.

Saat saya marah sama orang tua (dan orang tua saya marah sama saya), ada satu pikiran yang nggak bisa saya ilangin dan selalu mendadak muncul saat saya ingin mengumpat tentang mereka. One day, I will live without them. It's me without them, or they are without me. Entah karena alasan apapun.

Karena kematian, itu pasti. It's obvious and there's no other reason more obvious than that.
Atau mungkin kalau suatu hari nanti saya menikah dengan seseorang dan hidup terpisah dari mereka. Ini yang membuat saya sampai hari ini masih bilang saya nggak mau nikah.

Saya masih pengin bahagiain orang tua saya. Keduanya.
Yang saya lihat dari sebuah pernikahan adalah hubungan yang semakin jauh dari orang tua. Itu yang saya lihat dari kakak saya. Mungkin memang terlalu cepat untuk bicara tentang ini, dan saya juga nggak ngerti esensi dari pernikahan. Tapi yang saya lihat, kebanyakan pasangan muda memikirkan rumah tangganya diatas segala hal. Memikirkan hal-hal materiil; rumah, kendaraan, anak, asuransi, pekerjaan, blah blah blah. Ketika ada begitu banyak hal yang dipikirkan, tidak ada lagi prioritas untuk orang tua. Saya takut jadi seperti itu.

Saya termasuk orang yang gila kerja. Tapi kadang itu jadi masalah buat orang tua saya. Saat saya harus pergi pagi pulang malem, orang tua saya protes. Di sela-sela memasak, umi protes, dan waktu aku tanya kenapa, umi bilang "Umi kangen anake umi."


Jujur saya tersentuh banget dengan jawaban itu. Dan jawaban itu selalu terngiang-ngiang di telinga saya. Itu yang bikin saya nggak bisa marah sama umi. Saya nggak pernah nyangka umi akan jawab kayak gitu. Umi saya bukan orang yang so sweet, umi orangnya spontan; seperti saya.

Pada akhirnya anaklah yang harus melemah, mengalah untuk orang tua. Saat saya sibuk dengan banyak hal, saya takut saya nggak punya lagi cukup waktu untuk orang tua saya. Ada saatnya saya ada di rumah, tapi ada perasaan kangen sama orang tua yang begitu besar. Sampai-sampai, ngelihat wajah mereka udah bikin saya ngerasa damai. Saya kepengin bikin mereka seneng, bikin mereka bangga. Saya pengin sama mereka terus, bukan orang lain.

They are the best gifts.
They love me without conditions.
They love me.
They blame me, with no reasons, sometime.
I know, it's because they love me. Caring.
They don't want me know that they care with me.
We love, we hate, we curse, we smile, we laugh, we cry.
They are parents :)


Jangan dikira orang tua nggak punya gengsi, mereka punya. Mereka nggak pengen keliatan salah, itu kenapa mereka selalu beranggapan bahwa mereka selalu benar. Mereka nggak pengen keliatan bodoh, itu kenapa mereka selalu sok pintar. Mereka sayang, mereka peduli; hanya saja kadang kita sebagai anak tidak bisa memahami isi pikiran mereka. Mereka ingin anak-anaknya bangga pada mereka, melebihi rasa bangga mereka pada anak-anaknya.

Orang tua itu segalanya.
"Friends come and go, but the enemies accumulate. However, family will always stay"

At last I say, A Velly Intewesting Blog.

No comments:

Post a Comment