Sunday, January 11

Crooked

Nggak tahu harus mulai dariman. Satu hal, saya paling nggak suka saat orang mulai mencampuri kehidupan saya. Siapapun itu. Dengan alasan peduli, mereka mulai mencampuri dan mencoba mengubah saya, kehidupan saya, hal-hal yang saya sukai, dan kepribadian saya. I'm not gonna change. Saya hidup dengan cara saya karena ini hidup saya. Selama saya nggak melanggar hukum dan mengganggu hidup orang lain, saya rasa nggak ada salahnya saya tetap hidup dengan cara saya. Saya juga nggak akan mencampuri kehidupan siapapun, bukan karena saya nggak peduli, tapi karena saya nggak tertarik. Saya punya kehidupan rumit untuk ditata.

Skirpsi yang nggak ada ujungnya. Orang tua yang menentang rencana hidup saya. Keluarga yang tidak pernah mendengarkan saya. Mereka yang hobi mencampuri kehidupan saya, merusak rencana saya.
Kurang apalagi?

Entah berapa kali saya ingin kabur dari rumah karena merasa nggak kuat dan bingung harus berbuat apa. Skripsi yang nggak ada ujungnya itu bukan karena saya bodoh. Mereka bilang saya nggak bodoh. Mungkin iya. Saya, dengan sadar, menghukum kedua orang tua saya dengan menelantarkan skripsi saya. Saya masih belum mau lulus karena setelah lulus saya harus mengikuti mau mereka dengan mencari pekerjaan dan bekerja. Kata mereka mengajar, menjadi guru. Saya nggak mau. Itu sebabnya saya masih nggak mau lulus, mungkin sampai pada akhirnya kami sama-sama lelah dan menyerah. Saya akan lulus saat orang tua saya mau mengerti saya. Saya menahan diri tidak melampaui batas dengan bertindak lancang tanpa sepengetahuan mereka. Saya masih mempertimbangkan orang tua dan keluarga, saya mau mereka ada di samping saya, memberi dukungan, berjalan bersama. Saya butuh restu mereka. Entah berapa kali saya nangis mengingat bagaimana kami adu kuat dengan keinginan masing-masing. 

Saya selalu berpikir untuk menyewa kios tanpa sepengetahuan orang tua saya, dan membuka toko dengan bahagia. Tapi saya ngga bisa. Saya masih menghormati mere dan sangat berharap mereka memberikan restunya agar semua berjalan lancar dan saya tidak dihingapi rasa bersalah.

Saya mau Velvet. Itu saja. Saya nggak minta modal. Saya bisa cari sendiri. Saya meringis, miris, menahan tangis melihat orang tua saya bisa menyemangati anak tetangga yang merintis usaha salon, saat dia curhat ke orang tua saya. Sementara saya harus curhat kepada pembantu saya setiap kali saya cerita keinginan saya buka toko sendiri. Bahkan pembantu saya ini ikut membantu mencarikan kios untuk saya sewa nanti. Saya harus curhat kepada orang lain, bukan keluarga saya. Dimana mereka? Apa mereka pernah mendengarkan saya? Apa mereka pernah bersyukur punya saya sebagai salah satu anggota keluarga ini?

Saya marah, tapi saya bisa apa. Saya cuma bisa diam. Saya nggak mau hidup dalam ekspektasi orang lain. Karena orang tidak akan pernah puas dengan diri kita. Saya ingin dihargai dan dicintai sebagaimana saya saya yang seperti ini adanya. Saat ekspektasi mereka tidak terpenuhi, mereka kecewa. Apa mereka pikir saya nggak kecewa? Rasa kecewa saya berlipat-lipat lebih besar dari yang mereka rasakan. Saya bisa jadi kecewa dengan diri saya sendiri, bisa juga kecewa dengan reaksi mereka, bisa juga kecewa karena merasa tidak diterima.

Saya bertahan bukan karena saya kuat. Saya melemah. Saya menyemangati diri saya sendiri, setiap saat. Pernah mereka menyemangati saya? Jangankan semangat, mau mendengarkan saya pun tidak. Jadi wajar kan kalau saya berbalik nggak mau mendengarkan juga?

Kenapa diantara mereka yang menyemangati saya, saya nggak melihat keluarga saya berada di barisan itu?
Apa salah punya mimpi sendiri? Apa salahnya punya keinginan yang berbeda? Apa saya nggak berhak melakukan hal yang saya sukai? Toh, I got a lot from this thing. Kapan saya berhak melakukan sesuatu sesuai keinginan saya?

Mungkin saya yang terlalu parno. Tapi demi apapun, saya nggak bisa bekerja di kantor seperti orang normal lainnya. Saya nggak kuat sama atmosfernya. Iri, dengki, munafik, saling menjatuhkan, cari muka, pertemanan semu, permusuhan abadi. Itu yang saya lihat dalam dunia kerja. Saya nggak bisa menutupi perasaan saya saat saya nggak setuju atau nggak suka sesuatu. Saya bukan orang yang taat aturan. Mungkin saya akan kena kartu kuning berkali-kali. Saat saya kerja, rasanya saya harus sering dapet kartu kuning biar cepet dapet kartu merah, lalu keluar pertandingan. Saya nggak kuat iman. Saya bisa berakhir jambak-jambakan jika berada di sekeliling atmosfer negatif. Terlalu idealis, itu yang mereka bilang.

Saat orang tua saya bicara mengenai PNS dan mengabdi, yang ada di pikiran saya adalah saya nggak bisa percaya orang tua saya bicara mengenai itu. Saya pikir mereka berbeda. Tapi ternyata sama saja. Dan saya nggak bisa mengikuti keinginan mereka yang ini. Karena gaji bulanan dan uang pensiun bukan tujuan hidup saya. Saya masih muda, ada banyak hal yang ingin saya lakukan.

Saya masih ingin mendaftarkan proposal ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan lalu mengikuti banyak pameran, festival, dan seminar pengusaha muda. Saya masih ingin menjadi sponsor Duta Wisata Kota dan Kabupaten Tegal. Melihat nama Velvet berada diantara logo sponsor dan brand saya berkali-kali digaungkan sepanjang acara. Saya masih ingin masuk koran bersama dengan bisnis saya. Saya ingin menginspirasi pemuda lainnya. Saya ingin bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang-orang di sekitar rumah saya. 

Saya selalu iri dan entah kenapa jantung saya berdetak lebih cepat dari biasanya saat melihat pengusaha muda, seusia daya atau lebih tua sedikit, di bidang yang sama dengan saya mencapai hal yang menurut saya epic. Saya juga mau itu. Persaingan di dunia saya nggak main-main. Saya mau lebih serius. Saat melewati tempat usaha seperti yang saya tekuni, rasanya sakit. Sementara mereka yang hasil kerjanya biasa saja bisa memiliki studio dan memasarkan produknya, saya yang hasil kerjanya lebih baik dari mereka stay di rumah dan hanya menerima customer sesekali. Miris rasanya. Sakit. Saya juga mau ada di luar sana dengan plang usaha saya menyewa sebuah kios kecil dan hidup bahagia. Setidaknya mengerjakan hal yang saya sukai tanpa ada paksaan dari siapapun dan melakukannya tanpa penyesalan adalah definisi bahagia paling sederhana yang bisa saya berikan.

Saya bahagia saat saya bisa mengajar sambil makan permen karet. Kalau saya di institusi formal, saya udah sapet kartu kuning. Saya bahagia ketika saya nggak harus berpakaian resmi untuk mengajar, bahkan celana jeans dan flat shoes masih bisa diterima dengan lapang dada. Saya bahagia ketika saya nggak harus menebar senyum palsu kepada atasan atau siapapun itu. Saat saya nggak pengin senyum ke orang yang nggak saya kenal, saya lebih baik menunduk dan sibuk dengan ponsel saya. Dan saat saya tersenyum, I mean it. Saya bahagia ketika saya melihat hasil kerja saya di kuku orang lain sesuai dengan ekspektasi saya dan customer saya. Saya bahagia ketika saya melihat reaksi positif dari customer saya. Saya bahagia ketika saya kerja tanpa jam kantor. Bahagia itu saya yang merasakan. Bahkan ngasih makan ikan di kolam ikan SMA 1 Tegal pun, saya bahagia. Dan senyum saat papasan dengan tukang sampah karena motor saya dan gerobak si bapak sama-sama bingung harus lewat mana pun, saya bahagia, itu mengobati bad mood saya seharian karena orang rumah. Saya bahagia saat saya bisa tertawa lepas di depan kelas. Saya bahagia saat orang lain bisa menerima saya apa adanya.

Nggak, bukan berarti saya benci keluarga saya dengan nulis seperti ini. Saya sayang mereka. Hanya masalah ini saja yang membuat saya sering kehilangan arah dan bingung bagaimana harus bersikap. Mereka juga sayang sama saya. Kami hanya salah paham dan tidak membicarakannya. Dan kesalahpahaman itu berlanjut. Kami sama-sama menghindar untuk mendengarkan. 

Terlihat bahagia dan bahagia itu dua hal yang berbeda. Are you happy?

Dan nulis ini pun saya nangis setidaknya tiga kali.

Now playing: Dia Frampton - Trapeze
Mood: Grumpy

No comments:

Post a Comment